Penurunan yang relatif kecil di tengah gejolak pasar keuangan pada September memberi sinyal bahwa BI masih punya ruang yang memadai untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda.
Terlebih, stabilitas cadangan devisa ini juga menunjukkan adanya perubahan pendekatan BI dalam menjaga rupiah. BI dalam beberapa waktu terakhir semakin mengandalkan instrumen berbasis derivatif dan operasi pasar valuta asing non-spot, sehingga kebutuhan untuk menggunakan cadangan devisa secara langsung dapat ditekan.
Strategi ini menjadi penting kala tekanan eksternal masih tinggi dan risiko pelemahan rupiah berlangsung lebih lama.
Sebagai catatan, sepanjang September rupiah memang melemah 0,81%, tetapi posisi pelemahannya masih lebih baik daripada ringgit Malaysia yang melemah paling tajam.
Rupiah bergerak di rentang Rp17.72617.870/US$, rupiah kembali stabil di rentang tersebut setelah sempat hampir menyentuh Rp18.000/US$, tepatnya di Rp17.975/US$, pada 28 September.
(dsp/aji)






























