Logo Bloomberg Technoz

Manfaatkan PLTA

Arif menjelaskan cukup rendahnya emisi karbon yang dihasilkan dari produksi aluminium Inalum terjadi gegara perseroan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Siguragura dan PLTA Tangga. 

Adapun, PLTA Sigura-gura memiliki kapasitas 286 MW) dan PLTA Tangga sebesar 317 MW.  Keduanya berlokasi di Paritohan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara.

Inalum menggunakan PLTA Sigura-gura dan PLTA Tangga sebagai fondasi utama dalam mengoperasikan pabrik peleburan atau smelter aluminium di Kuala Tanjung.

Listrik yang dihasilkan oleh PLTA milik Inalum disalurkan melalui jaringan transmisi bertegangan tinggi sepanjang kurang lebih 120 kilometer menuju smelter di Kuala Tanjung untuk menjaga tungku peleburan tetap beroperasi 24 jam nonstop.  

“Kita ketahui di Sumatra Utara itu banyak kemungkinan PLTA lainnya yang bisa kita manfaatkan. PLN kan punya banyak itu. Kita sedang menjajaki kerjasama lanjutan dengan PLN untuk memanfaatkan energi dari PLN,” tutur Arif.

Sekadar catatan, Presiden Direktur Inalum Melati Sarnita sempat mengungkapkan terdapat risiko tungku smelter tidak beroperasi secara penuh, jika muka air Danau Toba yang dimanfaatkan PLTA perseroan terus mengalami penurunan.

Dia menjelaskan pasokan listrik yang berasal dari PLTA Sigura-gura dan PLTA Tangga mengalami penurunan; dari kapasitas normal 603 MW,  kini hanya dapat memasok 430 MW.

“Pembangkit listrik tenaga air Sigura-gura dan Tangga berada di Sungai Asahan, Sumatra Utara, dengan kapasitas desain 603 MW. Namun saat ini, kami hanya bisa berproduksi di 430 MW karena kondisi water level Danau Toba,” kata Melati dalam RDP di Komisi XII DPR, Selasa (16/9/2026).

Lembaga riset energi yang berbasis di Inggris, Ember, mencatat smelter aluminium baru—yang sebagian besar dimiliki perusahaan patungan Indonesia dan China — cenderung menggunakan batu bara sebagai sumber listrik PLTU captive. 

Ember mengungkapkan berdasarkan data Earthwise, hingga 2025, terdapat lebih dari 1,3 GW PLTU batu bara captive yang didedikasikan untuk smelter aluminium dan alumina di Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah.

Kondisi tersebut berbeda dengan smelter aluminium pertama Indonesia. Ember mencatat PLTA masih menyumbang sekitar 4 TWh atau 33% dari total pembangkit captive untuk industri aluminium pada 2025.

Pasokan tersebut terutama berasal dari PLTA Sigura–Gura dan Tangga di sepanjang Sungai Asahan yang memasok listrik ke smelter aluminium Inalum di Kuala Tanjung, Sumatra Utara.

Kendati begitu, Ember mencatat porsi tenaga air dalam pasokan listrik aluminium mulai tergerus seiring dengan beroperasinya smelter-smelter baru yang lebih bergantung PLTU batu bara.

Secara keseluruhan, Ember mencatat produksi listrik PLTU batu bara captive di Indonesia telah setara sekitar 58% produksi listrik dari PLTU batu bara on grid.

Adapun, PLTU captive merupakan pembangkit listrik yang dibangun perusahaan untuk memasok fasilitasnya sendiri, tak disalurkan ke jaringan listrik PT PLN (Persero).

Ember mencatat produksi listrik dari PLTU captive pada 2026 mencapai 134 TWh atau setara 58% produksi listrik PLTU batu bara yang terhubung ke sistem PLN sebesar 233 TWh.

Di sisi lain, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) meramal Indonesia harus membangun PLTU batu bara captive dengan kapasitas total 8 GW untuk memasok listrik kebutuhan smelter alumina dan aluminium, termasuk milik investor China yang sedang getol berekspansi ke Tanah Air.

CREA mencatat ekspansi smelter aluminium di Indonesia didominasi oleh investor asal China, di mana sekitar 75% dari semua proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Negeri Panda.

CREA mencatat saat ini hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium.

Nantinya, kapasitas PLTU captive diprediksi bertambah 8 GW untuk menyokong listrik 32 proyek industri aluminium di provinsi kaya bauksit dan pusat industri di luar Jawa.

(azr/wdh)

No more pages