Logo Bloomberg Technoz

Visionary Capital Global Pte. Ltd. sendiri merupakan holding & investment company berbasis di Singapura yang fokus pada akuisisi strategis di sektor consumer goods, makanan dan minuman (F&B), hingga rantai pasok frozen food.

Sosok utama di balik aksi akuisisi ini adalah Hj. Janni selaku Ultimate Beneficial Owner (UBO) Visionary Capital. Pengusaha senior di industri peternakan dan perdagangan daging Indonesia ini merupakan pendiri PT Suri Nusantara Jaya (SNJ) sekaligus pemilik jaringan Toko Daging Nusantara. Ia juga tercatat memiliki rekam jejak di pasar modal sebagai mantan Direktur PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF).

Dalam operasionalnya, Visionary Capital dipimpin oleh jajaran direksi eksekutif Agus Suhada dan Antonius Bobby Siswanto, serta Lee Xuanhan Lancaster sebagai direktur lokal di Singapura, yang aktif mengawal ekspansi rantai pasok dan investasi lintas negara (cross-border direct investment).

Sedang Tertekan

Dengan masuknya pengendali baru, TGUK ke depan memiliki segmen usaha baru berupa frozen food. Proses peralihan pengendali ini sudah berjalan sejak tahun lalu, ketika kinerja keuangan perusahaan memburuk.

Pada semester I-2025, penjualan bersih teguk amblas 97,31% dari sebelumnya Rp65,75 miliar menjadi tinggal Rp1,76 miliar. Seluruh segmen pendapatan turun yaitu minuman sebesar Rp1,6 miliar dari sebelumnya Rp60,88 miliar serta makanan sebanyak Rp127,28 miliar dibandingkan periode semester I-2024 yang sebesar Rp4,87 miliar.

Imbas penurunan penjualan tersebut, TGUK menderita rugi bersih hingga Rp8,43 miliar.

Pada semester I-2026, pendapatan TGUK tercatat Rp327,35 miliar dengan perolehan laba bersih Rp2,5 miliar.

Memburuknya kinerja keuangan merupakan buntut dari beratnya kinerja operasional perusahaan.

TGUK bahkan sempat memangkas hingga 500 orang karyawan sepanjang 2024. Efek dari pemutusan hubungan kerja (PHK) kini Platinum Wahab Nusantara menyisakan jumlah karyawan sebanyak 88 orang per Oktober 2024, dibandingkan 628 pada Desember 2023.

Pada saat bersamaan TGUK juga mengurangi jumlah outletnya menjadi 35 serta memangkas biaya operasional 68,9%. Realokasi kantor juga menjadikan penghematan biaya sewa dan utilitas sekitar Rp480 juta.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dibanding euforia saat TGUK IPO. Pada hari listing di BEI, saham TGUK langsung menyentuh auto reject batas atas (ARA).

Sebelumnya, TGUK menetapkan harga pelaksanaan initial public offering (IPO) di level Rp110/saham. Saat listing, saham TGUK dibuka lompat 38 poin atau setara 34,55% ke level Rp148/saham. Saat ini, saham TGUK parkir di level Rp116/saham.

(dhf)

No more pages