Logo Bloomberg Technoz

Kapalnya termasuk dalam armada yang melakukan pelayaran ulang-alik melintasi selat tersebut, mengangkut minyak—sering kali pada malam hari—dengan instruksi ketat mengenai peralatan yang boleh digunakan: tanpa lampu, tanpa telepon, dan hanya menggunakan satu radar.

Mereka sering kali berlayar hanya satu mil dari pesisir Oman, meskipun kedalaman laut di sana mencapai sekitar 100 meter—lebih dari cukup bahkan untuk dilalui oleh kapal supertanker terbesar sekalipun.

Sang kapten menuturkan bahwa dia dan awak kapalnya menentukan posisi dengan menjadikan garis pantai dan mercusuar sebagai acuan.

"Saya beruntung karena masih ingat teknik navigasi tradisional, cara lama," ujarnya dalam sebuah wawancara dari Filipina, negara asalnya tempatnya kini sedang berlibur setelah menjalani tugas selama tiga bulan yang sebagian besar dihabiskan untuk pelayaran ulang-alik di Hormuz.

"Kami tidak menggunakan lampu navigasi. Hal itu cukup menantang."

Pelayaran melintasi selat ini menjadi jalur vital bagi produsen energi di kawasan Teluk serta mendatangkan keuntungan besar bagi pemilik kapal dan pedagang komoditas yang berpotensi meraup miliaran dolar dari perdagangan tersebut.

Selain itu, terdapat pula prospek penghasilan yang sangat menggiurkan bagi para awak kapal yang bersedia menempuh risiko pelayaran tersebut.

Bank-bank AS, JPMorgan Chase & Co. dan Goldman Sachs Group Inc., memperkirakan arus minyak mentah dari Timur Tengah kembali mendekati tingkat sebelum masa konflik, yang didorong oleh pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. JPMorgan memperkirakan volume harian yang melintasi kawasan Teluk mencapai 17,5 juta barel.

AS telah diam-diam berkoordinasi dengan pihak pelayaran sejak awal musim panas untuk merancang rute dan menghindari ranjau Iran.

Pasukan Amerika "telah membantu ribuan kapal melintasi Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir dengan memberikan perlindungan terkoordinasi," demikian pernyataan Komando Pusat AS.

"Kami tetap sangat fokus dan akan terus bekerja sama dengan mitra antarlembaga AS, negara-negara kawasan, serta industri pelayaran untuk meningkatkan arus lalu lintas maritim."

Sang kapten sering kali diberi tahu mengenai dukungan militer yang mengawasi kapalnya dan dapat melihat kehadiran mereka di udara.

Pada suatu kesempatan, dia melihat apa yang ia gambarkan sebagai pesawat jet terbang di atas mereka, serta sebuah helikopter.

Suasana senyap di radio saat melintasi Hormuz membuat pengalamannya di laut terasa makin tidak biasa, ujarnya.

Keheningan radio itu hanya diselingi oleh percakapan dari lebih banyak orang daripada biasanya yang berjaga di anjungan untuk memantau kemungkinan serangan.

Seorang kapten kapal tanker gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) lain yang pernah melintasi Hormuz mengatakan bahwa perjalanan dimulai dengan mematikan pemutus arus yang terhubung ke transponder lokasi kapal, atau AIS, guna menyembunyikan keberadaan mereka saat berlayar menyusuri pantai Oman.

Kemudian, mereka mulai memasang barikade karung pasir di geladak utama dengan asumsi bahwa mereka bisa saja diserang oleh pesawat nirawak atau rudal.

Kapal-kapal pengangkut gas ini—yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kapal tanker minyak—bersikap lebih hati-hati.

Namun, setidaknya delapan kapal LNG telah melintasi selat tersebut dalam dua pekan terakhir dengan jaminan keamanan dari AS, kata kapten tersebut.

Iran memiliki daftar hitam sendiri untuk kapal tanker yang terlibat dalam perdagangan ini.

Namun, para eksekutif pelayaran memperkirakan adanya kemungkinan satu banding 20 untuk terkena serangan saat melintasi Selat Hormuz, meskipun kapal-kapal tersebut berada dalam pengawasan militer AS.

Kontrak terbaru kapten kapal tanker tersebut lebih singkat satu bulan dari biasanya karena dia tahu bahwa pelayaran itu "tidak mudah."

Meski demikian, dia tetap menerima bayaran berkali-kali lipat dari gaji biasanya untuk melakukan pelayaran tersebut.

Bloomberg sebelumnya melaporkan seorang pemilik kapal menawarkan tambahan gaji enam bulan kepada awak kapalnya untuk melintasi Selat Hormuz.

Jumlah yang ditawarkan itu tergolong besar bagi siapa pun, mengingat sebagian besar awak kapal tanker di dunia berasal dari negara-negara berpenghasilan rendah seperti Filipina dan India.

Dengan muatan dua juta barel minyak di dalamnya, kapal tanker sang kapten dipantau oleh pasukan Amerika sebagai bagian dari proses pengawasan ketat yang mewajibkan pelaporan rutin.

Setelah melihat ledakan di depan, sang kapten diberi tahu oleh Angkatan Laut AS bahwa kapal-kapal lain selain kapalnya berhasil melanjutkan perjalanan, dan dia pun diminta melakukan hal yang sama.

Pada kesempatan lain, kapal sang kapten sendiri yang diserang, namun tidak ada kerusakan maupun korban luka di antara awak kapal. Itu hanyalah satu dari sekian banyak insiden yang nyaris berakibat fatal.

Bahkan ketika pelayaran melintasi selat itu berakhir tanpa insiden, tanda-tanda bahaya di Selat Hormuz tidak pernah jauh.

"Hal itu bisa terjadi kapan saja," ujar sang kapten.

Rute-rute transit Hormuz./dok. Bloomberg

Saat proses pemindahan muatan ke kapal lain di luar Selat Hormuz, dia dan awak kapalnya mendengar siaran dari kapal-kapal lain yang menyatakan bahwa mereka sedang diserang di dekat Selat Hormuz.

Pada akhirnya, keputusan untuk melakukan pelayaran bergantung pada kapten kapal. Selama mereka bersedia melintas, jutaan barel minyak per hari akan terus mengalir ke pasar global.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) memperkirakan bahwa 24 pelaut telah tewas dalam berbagai serangan di kawasan tersebut sejak perang dimulai.

Sebagian besar waktu saat melintasi Selat Hormuz dihabiskan untuk berkomunikasi dengan Angkatan Laut AS.

Kapten yang diwawancarai oleh Bloomberg mengatakan bahwa pihak Amerika menyediakan rute dan memberikan titik-titik koordinat (waypoint) bagi kapal untuk dilalui sepanjang pelayaran.

Kapal-kapal melapor kepada pihak militer setiap 30 menit untuk mengabarkan perkembangan pelayaran serta melaporkan apakah mereka melihat adanya rudal di sepanjang perjalanan.

Selama pelayaran melintasi wilayah tersebut, kapten dan timnya selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Seperti halnya saat bertugas di kapal LNG, mereka menempatkan karung pasir dan drum berisi air di dekat anjungan kapal sebagai langkah pencegahan.

Pompa pemadam kebakaran darurat di kapal tanker minyak itu terus beroperasi sepanjang perjalanan, dan selang pemadam kebakaran darurat pun selalu disiagakan di dekat area akomodasi.

"Kapal tanker senantiasa menghadapi risiko setiap saat," ujar sang kapten. "Ini adalah jenis kapal yang sangat berbahaya."

Dia menuturkan bahwa anak-anaknya menantikan selesainya masa kontrak kerjanya agar dia bisa pulang ke Filipina dengan selamat. Namun, dia mengaku selalu siap untuk kembali bertugas di kapal.

"Keluarga saya cukup khawatir, tetapi saya katakan kepada mereka bahwa saya bisa menangani situasi ini," ujarnya. "Saya sangat bangga. Sejujurnya, saya menikmati pekerjaan saya."

(bbn)

No more pages