"Keputusan yang diambil oleh cabang eksekutif Pemerintah Federal kita tampaknya lebih didorong oleh kekhawatiran akan hasil pemilihan umum paruh waktu," tambah responden lainnya.
Publikasi triwulanan ini banyak dibaca di kalangan industri energi dan memuat komentar apa adanya dari responden yang bekerja di perusahaan pengeboran dan fracking.
West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan harga minyak AS, telah naik sekitar 36% sejak konflik Iran bermula pada akhir Februari.
Dalam survei terbaru ini, para eksekutif memperkirakan harga rata-rata minyak mentah AS akan mencapai US$82 dalam kurun satu tahun ke depan. Angka ini naik 5% dibandingkan dengan proyeksi tahunan yang tercantum dalam laporan tiga bulan sebelumnya.
"Situasi masih sangat kacau, tetapi hal ini justru memicu sentimen kenaikan harga minyak [bullish] akibat berbagai dampak dari peristiwa yang terjadi di Timur Tengah," kata salah satu responden.
Dallas Fed, yang secara rutin menyurvei perusahaan energi di wilayah Texas, Louisiana bagian utara, dan New Mexico bagian selatan, mengumpulkan data survei terbaru ini pada periode 16—24 September.
Meskipun aktivitas sektor minyak di wilayah tersebut meningkat, tingkatannya belum menyamai capaian pada kuartal kedua.
Selain itu, terdapat indikasi bahwa peningkatan produksi tertahan oleh tingginya biaya operasional, ungkap Kunal Patel, ekonom bisnis senior di bank tersebut, saat berbicara dengan awak media setelah survei dirilis.
"Bisa jadi faktor yang agak menghambat peningkatan aktivitas ini hanyalah kendala logistik dalam upaya mendatangkan lebih banyak peralatan ke lokasi pengeboran, serta kesulitan dalam merekrut lebih banyak tenaga kerja dan mendatangkan lebih banyak rig," jelas Patel.
Meskipun para eksekutif industri minyak serpih (shale oil) kerap mengeluhkan dampak ketidakstabilan pasar minyak dalam survei-survei sebelumnya, laporan terbaru memuat pandangan seorang eksekutif yang mempertanyakan apakah volatilitas ekstrem di masa lalu akan terulang kembali.
"Ketidakstabilan akan menjadi ciri khas pasar energi yang tampaknya tak berujung hingga pasokan minyak dari Timur Tengah kembali stabil," ujar seorang responden.
"Ingatkah Anda pada kondisi pasar minyak periode 2012—2020? Harganya sempat mencapai US$100 per barel, lalu anjlok secara ekstrem hingga minus US$30 per barel. Sungguh sebuah gejolak ekonomi yang luar biasa. Akankah 2026 menjadi pengulangan dari situasi tersebut?"
(bbn)




























