Masih adanya peluang kenaikan FFR membuat yield US Treasury bertahan tinggi lebih lama. Pada 06.54 WIB, yield US Treasury tenor 10 tahun masih terkerek 4,9 basis poin (bps) ke 5,28% dan mengerek sebagian yield obligasi negara lainnya, seperti Jepang naik 3,4 bps jadi 3,06% dan Taiwan naik 2 bps jadi 1,92%.
Begitu juga dengan obligasi berdenominasi dolar AS. Seperti yield obligasi pemerintah Brazil naik 5,6 bps ke 6,75%, Meksiko naik 7,1 bps ke 7,07%, Filipina dan Indonesia terkerek 2,5 dan 2,9 bps jadi masing-masing ke 6,19%.
Namun, sebagian pasar obligasi masih stabil seperti surat utang negara (SUN) dalam denonimasi rupiah bertahan di 7,18%. Begitu juga obligasi Malaysia bertahan di 3,92%, China di 1,67%, dan Korea Selatan di 4,4%.
Pergerakan di pasar obligasi belum sepenuhnya beresonansi di pasar valuta asing. Yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia serta yuan offshore melemah. Pada 07.05 WIB, belum ada mata uang kawasan yang bergerak di zona hijau, kecuali dolar Hong Kong dengan penguatan sangat terbatas 0,01%.
Dari sisi domestik, pelaku pasar akan mencermati data inflasi yang akan rilis dan berpotensi menggerakkan rupiah hari ini. Inflasi diproyeksikan masih berada di rentang target Bank Indonesia (BI), meski sedikit naik jadi 3,3% dari 3,19%.
Inflasi diperkirakan meninggi lantaran dampak El Nino yang menyebabkan gangguan pasokan dan menekan harga pangan. Tekanan inflasi juga kian meluas karena kontribusi kenaikan biaya energi dan transportasi sejak harga bahan bakar minyak (BBM) naik, lantaran tekanan eksternal yang datang dari tingginya harga minyak mentah dunia.
Selain data inflasi, hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) juga akan merilis data neraca perdagangan. Ekspor Agustus diperkirakan hanya tumbuh 4,15% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Jika terealisasi, proyeksi itu menunjukkan adanya perlambatan dibandingkan pertumbuhan ekspor Juli yang mencapai 6,05% yoy, dengan nilai US$26,22 miliar.
Sebaliknya, impor Agustus diperkirakan tumbuh 30,47% yoy. Sementara neraca perdagangan diperkirakan surplus US$700 juta, meningkat dari suplus Juli yang sebesar US$122 juta.
Di tengah berbagai sentimen dan ekspektasi pasar yang berkelindan itu, rupiah hari ini diperkirakan terkonsolidasi di rentang Rp17.850-Rp17.900/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah sejatinya masih ada potensi menguat, namun memang penguatannya sudah terbatas di rentang sempitnya, dengan mencermati resistance terdekat menuju level Rp17.850/US$ yang merupakan resistance pertama dengan target penguatan selanjutnya Rp17.800/US$.
Apabila kembali break kedua resistance tersebut, rupiah berpotensi menguat lanjutan sampai dengan Rp17.700/US$ sebagai resistance paling terkuatnya, yang tercermin dari time frame daily, biarpun peluangnya menyusut.
Jika nilai tukar rupiah berbalik arah hingga terjadi pelemahan pada perdagangan hari ini, support menarik dicermati pada level Rp17.900/US$ dan selanjutnya kembali Rp18.000/US$ secara potensial.
(riset)


























