BBM Lainnya
Jika proyeksi tersebut terealisasi, sejumlah produk BBM nonsubsidi lainnya juga berpotensi mengalami penyesuaian harga pada 1 Oktober 2026.
Yayan memprediksi harga Pertamax Green 95 naik dari Rp19.150/liter menjadi Rp21.200/liter, sementara Pertamax Turbo diperkirakan meningkat dari Rp19.600/liter menjadi Rp21.450/liter.
Untuk jenis solar atau diesel, harga Dexlite diproyeksikan naik dari Rp23.700/liter menjadi Rp25.000/liter, dan Pertamina Dex berpotensi melonjak dari Rp25.200/liter menjadi Rp26.600/liter.
Di sisi lain, jika pemerintah masih menahan harga Pertamax yang tidak mendapatkan kompensasi APBN ini, Yayan memperhitungkan PT Pertamina (Persero) harus menanggung selisih terhadap harga formula sekitar Rp1,06 triliun/bulan dengan asumsi volume konsumsi 14.200 kiloliter (kl)/hari.
“Mengingat lonjakan harga pasar internasional saat ini, potensi beban keuangan yang ditanggung Pertamina bahkan diperkirakan membengkak hingga menyentuh Rp1,4 triliun/bulan,” katanya.
Guna menjaga kepercayaan publik dan stabilitas, Yayan menyarankan agar pemerintah bersikap transparan dalam menyampaikan kebijakan penyesuaian harga BBM.
"[Hal] yang sebaiknya dilakukan, untuk jangka pendek, adalah umumkan harga beserta alasannya secara terbuka. Kenaikan kecil yang dapat diperkirakan lebih mudah diterima daripada kejutan," ujar Yayan.
Untuk jangka menengah, Yayan merekomendasikan penyesuaian harga dilakukan lebih sering dengan skala yang lebih kecil guna mencegah penumpukan beban lonjakan harga secara drastis.
Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung memberi sinyal akan ada penyesuaian harga BBM nonsubsidi bulan depan atau periode Oktober 2026.
Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga minyak dunia yang terus berfluktuasi hingga hampir menembus US$107/barel.
Meski demikian, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi, yaitu Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite, tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun ini.
"Pertalite tidak ada kenaikan [sampai akhir tahun], tetapi kalau yang nonsubsidi, ini akan disesuaikan dengan harga pasar. Kita lihat rata-rata dalam satu bulan kira-kira penyesuaiannya berapa," ujar Yuliot saat ditemui awak media di agenda Hari Pertambangan dan Energi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
“Ada penyesuaian [harga BBM nonsubsidi],” tambah Yuliot.
Yuliot menjelaskan tingginya lonjakan harga minyak mentah global memberi dampak langsung terhadap pasokan domestik, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi nasional.
(wdh)




























