Logo Bloomberg Technoz

Produksi batu bara menjadi salah satu agenda utama Presiden AS Donald Trump, seiring pemerintahannya berupaya menghidupkan kembali industri tersebut. Trump mengatakan pada Juni bahwa dia akan mengerahkan dana pembayar pajak hingga ratusan juta dolar untuk memperkuat sektor ini. Lonjakan biaya listrik akibat kebutuhan pusat data AI dan perang Iran turut meningkatkan kekhawatiran biaya hidup yang membuat pemilih frustrasi menjelang pemilu paruh waktu pada November.

Pernyataan resmi China pada Sabtu tidak secara eksplisit menyebut pembelian batu bara, tetapi mendukung hasil yang dicapai oleh tim perdagangan kedua negara. China juga mengonfirmasi pembahasan keringanan tarif senilai US$30 miliar dan perpanjangan gencatan perdagangan, tanpa menyebutkan batas waktunya.

Upaya menghubungi Kantor Informasi Dewan Negara China dan Kementerian Perdagangan China tidak mendapat tanggapan di luar jam kerja pada Sabtu.

Apa Saja Agenda Pertemuan Xi dan Trump di Washington? (Bloomberg)

Isu Taiwan

Pernyataan Gedung Putih tidak menyebut Taiwan, setelah Xi mendesak AS untuk secara tegas “menentang” kemerdekaan Taiwan dalam pertemuannya dengan Trump pada Kamis.

Penggunaan bahasa tersebut akan menandai perubahan signifikan dari posisi Washington selama ini terkait pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut. Partai Komunis China yang berkuasa mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meski China tidak pernah menguasai pulau itu. Duta Besar AS untuk China David Perdue pada Jumat menegaskan bahwa Trump tidak mengubah sikapnya.

Trump pada Sabtu mengakui bahwa isu Taiwan dibahas dalam pertemuannya dengan Xi pekan ini, tetapi tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai posisi AS.

“Untuk saat ini, semuanya baik-baik saja. Ini hanya berjalan sebagaimana mestinya,” kata Trump kepada wartawan. “Kami tidak menghabiskan banyak waktu membahas Taiwan. Dia sangat memahami bagaimana perasaan saya.”

Pernyataan resmi China, yang mencantumkan delapan hal yang disepakati kedua pihak sebagai “konsensus”, juga tidak menyebut Taiwan. Hal ini berbeda dengan pertemuan puncak kedua pemimpin pada Mei, ketika Beijing menyisihkan satu bagian khusus dalam pernyataannya untuk Taiwan sebagai pusat industri chip.

Kesepakatan yang dicapai juga mencakup hal-hal di luar perdagangan. Militer kedua negara akan menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan memperkuat komunikasi dan pencegahan krisis sesegera mungkin, menurut kantor berita resmi Xinhua.

Kedua pemimpin juga sepakat bahwa Iran harus memenuhi komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan tidak ada negara atau organisasi yang boleh memungut biaya atas jalur perairan internasional, menurut China. Poin terakhir tersebut juga tercantum dalam pernyataan Gedung Putih.

‘Super Intelligence’

Gedung Putih mengatakan kedua negara telah membentuk kelompok kerja yang berfokus pada penanganan hambatan akses pasar di sektor pertanian, yang selama ini menjadi salah satu isu utama dalam negosiasi perdagangan bilateral.

Secara terpisah, Washington dan Beijing membentuk Dewan Investasi yang bertujuan membahas peluang investasi dan menyelesaikan hambatan terkait investasi. Kedua pihak juga mengatakan akan terus membahas kekhawatiran AS mengenai kekurangan pasokan yang melibatkan logam tanah jarang dan mineral penting lainnya, menurut pernyataan tersebut.

Trump mendesak Xi untuk meningkatkan produksi produk minyak olahan guna membantu menstabilkan pasokan global. Kedua pemimpin juga sepakat melanjutkan dialog mengenai teknologi baru, dengan pertemuan berikutnya mengenai kecerdasan buatan (AI) dijadwalkan pada November.

Pernyataan Gedung Putih menyebut kedua pemimpin sepakat menggunakan istilah “super intelligence”, bukan “artificial intelligence”, untuk menggambarkan teknologi baru yang dimaksud. Pernyataan China tidak menyebut kesepakatan tersebut.

Ketika ditanya mengenai istilah tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, “China menghargai posisi pihak AS dan menghormati pilihan mereka atas istilah tersebut.”

(bbn)

No more pages