Pada Mei 2026, Kejaksaan Agung memberikan konfirmasi telah memulai penyidikan dugaan korupsi manipulasi harga ekspor CPO oleh 10 perusahaan sawit besar di Indonesia.
Korps Adhyaksa juga membenarkan penyidikan tersebut sama dengan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) soal dugaan praktik transfer pricing atau penentuan harga CPO yang memanipulai perolehan omzet menjadi lebih kecil.
Sehingga, kewajiban pajak atau penerimaan pajak dari kegiatan ekspor tersebut pun lebih rendah dari seharusnya.
"Perkara manipulasi atau transfer pricing itu kita sekarang sedang lakukan penyidikan," kata Direktur Penyidikan Syarief Sulaeman Nahdi saat itu dikutip, Senin (25/5/2026).
"Itu [sudah dimulai] sekitar mungkin satu bulan lebih. Nah, data dari Menkeu [Purbaya Yudhi Sadewa] itu melengkapi data yang ada di kita."
Kemudian, pada Juni 2026, Kejaksaan Agung mengonfirmasi telah melakukan pemeriksaan terhadap direksi PT Ivo Mas Tunggal dalam penyidikan manipulasi harga ekspor sawit atau transfer pricing. Hal ini dilakukan usai Purbaya menyerahkan data soal dugaan praktik transfer pricing kepada Kejaksaan Agung.
Meski demikian, jaksa belum mengelaborasi mengenai identitas dari direksi yang diperiksa. Mereka juga belum mengelaborasi materi pemeriksaan terhadap anak usaha dari Sinar Mas Agribusiness and Food Tbk (SMAR) tersebut.
“Ada beberapa yang kita sudah [periksa], dari direksi dan lain-lain. Dari Ivo Mas Tunggal ya,” ujar Syarief, dikutip Rabu (24/6/2026).
Berdasarkan data yang diterima Bloomberg Technoz, PT Ivo Mas Tunggal memang merupakan salah satu dari 10 perusahaan sawit yang diduga oleh Kementerian Keuangan melakukan transfer pricing untuk mengurangi kewajiban pajak ekspor.
Selain itu, sejumlah perusahaan yang diselidiki Kementerian Keuangan di antaranya PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Multimas Nabati Asahan hingga PT Energi Unggul Persada yang tergabung ke dalam grup usaha Wilmar.
Selanjutnya, ada PT Kutai Refinery Nusantara dan PT Sari Dumai Sejati yang tergabung ke dalam grup usaha Royal Golden Eagle. Lalu, Musim Mas dan PT Intibenua Perkasatama. Terakhir, PT Sumber Indah Perkasa dari grup yang sama dengan PT Ivo Mas Tunggal.
(dov/ros)



























