Pemerintah juga memiliki skema Tertiary Education Subsidy (TES) untuk membantu mahasiswa yang memenuhi kriteria, termasuk mereka yang berkuliah di perguruan tinggi swasta.
- Singapura
Singapura tidak menggratiskan kuliah untuk seluruh mahasiswa. Pemerintah memberikan subsidi biaya pendidikan serta bantuan berdasarkan kemampuan ekonomi keluarga.
Mulai tahun akademik 2026, mahasiswa sarjana penuh waktu dari keluarga dengan pendapatan kotor bulanan maksimal S$4.000 dapat memperoleh Higher Education Community Bursary hingga S$6.300 per tahun atau kisaran Rp55 juta hingga Rp80 jutaan. Besaran bantuan kemudian menurun sesuai kelompok pendapatan.
- Malaysia
Malaysia memberikan berbagai bentuk subsidi dan bantuan pendidikan, terutama pada jenjang sekolah. Salah satunya Bantuan Awal Persekolahan RM150 atau sekitar Rp658.500 yang diberikan kepada siswa yang memenuhi ketentuan pemerintah.
Pemerintah juga memberikan bantuan untuk pendidikan prasekolah, termasuk dukungan biaya makanan dan operasional.
- Thailand
Thailand menjalankan kebijakan Free Education 15 Years, yang memberikan dukungan pendidikan sejak prasekolah hingga jenjang menengah.
Pemerintah mengalokasikan dana berdasarkan siswa. Dalam skema tersebut, alokasi biaya pendidikan antara lain 1.700 baht per tahun untuk taman kanak-kanak, 1.900 baht untuk SD, 3.500 baht untuk SMP dan 3.800 baht untuk SMA. Pemerintah juga memberikan dukungan untuk buku, perlengkapan sekolah, seragam dan kegiatan siswa.
Eropa
- Jerman
Jerman merupakan salah satu negara yang dikenal dengan pendidikan tinggi berbiaya rendah. Mayoritas perguruan tinggi negeri tidak mengenakan tuition fee untuk program sarjana dan sebagian besar program magister.
Meski demikian, mahasiswa tetap membayar semester contribution yang besarnya berbeda antaruniversitas, sekitar €70-€430 per semester atau sekitar Rp1 juta - Rp8 juta.
Ada pengecualian. Baden-Württemberg, misalnya, mengenakan biaya €1.500 per semester atau sekitar Rp30 juta kepada mahasiswa dari negara di luar Uni Eropa untuk sejumlah program.
- Norwegia
Norwegia juga menerapkan pembebasan tuition fee di perguruan tinggi negeri bagi mahasiswa dari Norwegia, Uni Eropa/EEA dan Swiss.
Namun, mahasiswa dari luar EU/EEA dan Swiss umumnya harus membayar tuition fee, dengan sejumlah pengecualian. Mahasiswa juga tetap membayar semester fee sekitar NOK1.000 per semester atau sekitar Rp1,8 juta.
- Finlandia
Finlandia memberikan pendidikan tinggi tanpa tuition fee bagi kelompok tertentu. Mahasiswa dari EU/EEA dan Swiss umumnya tidak membayar tuition fee.
Sebaliknya, mahasiswa dari luar EU/EEA dan Swiss umumnya membayar biaya kuliah untuk program sarjana dan magister berbahasa Inggris, dengan kisaran €8.000-€20.000 per tahun atau sekitar Rp162 juta - Rp406 juta.
- Austria
Austria membebaskan tuition fee bagi mahasiswa Austria dan mahasiswa dengan status setara EU/EEA selama masih dalam masa studi normal dan masa toleransi.
Setelah periode tersebut, biaya yang dikenakan sekitar €363,36 per semester Rp7,3 juta. Mahasiswa dari negara ketiga umumnya membayar €751,92 per semester atau sekitar Rp15 juta, selain iuran mahasiswa.
Oseania
- Australia
Australia menggunakan model subsidi, bukan kuliah gratis universal. Pemerintah memberikan Commonwealth Supported Places (CSP) yang membuat sebagian biaya pendidikan mahasiswa ditanggung pemerintah melalui Commonwealth Grant Scheme.
Mahasiswa tetap memiliki student contribution, tetapi pembayaran dapat ditunda melalui skema HECS-HELP.
Besaran dukungan pemerintah berbeda menurut bidang studi. Pemerintah Australia menerbitkan tarif pendanaan untuk masing-masing kelompok bidang pendidikan sebagai dasar perhitungan subsidi.
Mulai 2026, Australia juga menerapkan Needs-based Funding untuk memberikan tambahan pendanaan kepada universitas guna mendukung mahasiswa dari kelompok yang kurang terwakili, termasuk mahasiswa dari latar belakang sosial ekonomi rendah, masyarakat First Nations dan mahasiswa di wilayah regional.
(dec)





























