Di sisi lain, beban pokok pendapatan BNBR ikut naik menjadi Rp1,94 triliun pada periode Januari-Juni 2026. Dengan demikian, laba bruto tinggal Rp649,97 miliar atau naik dua kali lipat dari posisi yang sama tahun sebelumnya sekitar Rp390,43 miliar.
Setelah dikurangi beban umum, adminitrasi dan beban penjualan, laba usaha BNBR tersisa Rp301,53 miliar, relatif membaik jika dibandingkan dengan posisi laba periode sebelumnya sekitar Rp78,68 miliar.
Hanya saja, laba usaha dan EBITDA BNBR mesti tergerus hebat kenaikan tingkat bunga mengambang atau floating rate biaya akuisisi pengelolaan ruas tol Cimanggis-Cibitung sejak akhir tahun lalu.
Beban bunga pinjaman pada pos akuisisi bisnis tol itu mencapai Rp540,17 miliar. Konsekuensinya, posisi untung pada kinerja operasional dan perbaikan margin perusahaan justru berbalik rugi sekitar Rp224,81 miliar pertengahan tahun ini.
Dari sisi neraca keuangan, BNBR mencatat total liabilitas sebesar Rp19,75 triliun, berasal dari komponen jangka pendek Rp4,33 triliun dan jangka panjang Rp15,42 triliun.
Sementara itu, total aset mencapai Rp24,28 triliun, berasal dari aset lancar Rp5,12 triliun dan aset tidak lancar Rp19,16 triliun. Di sisi lain, ekuitas neto relatif susut ke level Rp4,53 triliun.
(naw)





























