Logo Bloomberg Technoz

Capaian itu mendorong nilai laba bersih per saham dasar sebesar Rp265,85 per saham dasar, meningkat 36% dari laba bersih per saham dasar sebesar Rp195,43 per saham dasar.

Sementara itu, ANTM membukukan kenaikan aset sebesar 27% mencapai Rp61,27 triliun. Nilai ekuitas perusahaan juga naik 14% menjadi Rp38,53 triliun.

Di sisi lain, ANTM turut menjaga posisi likuiditas dengan kas dan setara kas sebesar Rp9,23 triliun. Posisi itu memberikan financial flexibiilty bagi ANTM untuk menjaga kebutuhan operasional, likuiditas, serta mendukung pelaksanaan proyek strategis perusahaan.

ANTM mencatat penjualan bersih Rp62,71 triliun sepanjang Januari-Juni 2026, naik 6% dibandingkan dengan penjualan bersih pada periode yang sama tahun lalu.

“Capaian kinerja operasional Antam pada semester I-2026 merefleksikan optimalisasi portofolio komoditas dan konsistensi perusahaan dalam menjaga keunggulan operasional untuk menciptakan nilai berkelenjutan bagi para pemangku kepentingan,” tuturnya.

Produk emas menjadi kontributor terbesar penjualan ANTM dengan proporsi 80% terhadap total penjualan ANTAM pada semester I-2026.

Penjualan emas tumbuh 1% menjadi Rp50,39 triliun, dari Rp49,68 triliun pada semester I-2025. Lewat penguatan strategi pemasaran domestik, volume penjualan emas pada semester I-2026 mencapai 18.080 kg (581.286 troy oz.). Sementara produksi emas dari tambang perusahaan sebesar 433 kg (13.921 troy oz.).

ANTM terus memperkuat pengelolaan persediaan emas secara disiplin dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar, strategi pengadaan dan pricing, serta efisiensi penggunaan modal kerja.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan produk, perputaran persediaan, dan likuiditas perusahaan.

Segmen nikel (feronikel dan bijih nikel) berkontribusi sebesar 17% atau Rp10,41 triliun terhadap total penjualan semester I-2026, meningkat 32% dari Rp7,87 triliun pada paruh pertama 2025.

ANTM memproduksi 7,78 juta wet metric ton (wmt) sepanjang 1H26, yang ditopang optimalisasi kegiatan penambangan , dengan penjualan bijih nikel sepanjang 1H26 mencapai sebesar 6,77 juta wmt.

Sementara itu, ANTM memproduksi 7.788 ton nikel dalam feronikel (TNi) pada 1H26, didukung keberlangsungan operasi dan ketersediaan bahan baku. Secara kumulatif, penjualan feronikel pada 1H26 tumbuh 32% menjadi 7.605 TNi dibandingkan 5.763 TNi pada 1H25.

Segmen bauksit dan alumina berkontribusi sebesar 3% terhadap total penjualan dengan nilai Rp1,88 triliun, meningkat 28% dibandingkan Rp 1,46 triliun pada 1H25.

Produksi bauksit pada 1H26 mencapai 1,28 juta wmt, sejalan dengan optimalisasi kapasitas, produktivitas tambang, dan permintaan domestik. Sepanjang 1H26, penjualan bauksit tumbuh 24% menjadi 1,26 juta wmt dibandingkan 1,01 juta wmt pada 1H25.

Sejalan dengan optimalisasi operasi pabrik CGA, produksi alumina (chemical grade alumina) pada 1H26 mencapai sebesar 100.257 ton alumina, meningkat 12% dibandingkan capaian produksi alumina pada 1H25 sebesar 89.385 ton alumina.

Dari sisi penjualan, tercatat sebesar 100.437 ton alumina, meningkat 10% dibandingkan penjualan alumina pada 1H25 sebesar 91.109 ton alumina.

(naw)

No more pages