Sikap tersebut menempatkan bank sentral kawasan Eropa ini di barisan terdepan di antara negara-negara anggota Group-of-Seven (G-7), setelah bulan lalu menjadi yang pertama di kelompok tersebut yang menaikkan suku bunga sejak perang Iran dimulai.
Rapat bulan September mendatang dinilai secara luas sebagai momen alami untuk mengeksekusi langkah pengetatan berikutnya, yang akan didukung oleh proyeksi kuartalan terbaru dari staf internal, rilis data inflasi dua bulan sebelumnya, serta data ekonomi lainnya termasuk sejumlah survei bisnis.
Pasar obligasi tidak banyak bergerak usai keputusan dan pernyataan Lagarde tersebut, meninggalkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jerman (Bund) tenor 10-tahun naik dua basis poin ke level 3,19%. Imbal hasil tersebut sebelumnya sempat menyentuh 3,21%—level tertinggi sejak 2011—seiring melonjaknya harga minyak dan gas yang memicu kekhawatiran inflasi.
Proyeksi pasar terkait arah suku bunga ke depan juga terpantau stabil. Transaksi swap mengindikasikan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September hampir pasti terjadi, dengan kenaikan lanjutan yang sudah diperhitungkan sepenuhnya pada akhir tahun. Sementara itu, mata uang euro menahan pelemahannya, turun 0,3% terhadap dolar AS di kisaran US$1,1374.
Lagarde menyampaikan pernyataan tersebut ketika konflik yang semakin meluas mendorong harga minyak Brent menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. Kenaikan itu terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.
"Risiko terhadap prospek inflasi cenderung mengarah ke atas," ujar Lagarde. "Guncangan harga energi dapat semakin membesar, dan dampaknya terhadap harga-harga lain maupun upah bisa lebih kuat daripada yang saat ini kami perkirakan. Semakin lama harga energi bertahan di level tinggi, semakin besar kemungkinan kenaikan tersebut mendorong inflasi secara lebih luas."
Lagarde menambahkan bahwa inflasi inti sejauh ini masih "terkendali". Inflasi umum di kawasan euro pada Juni melambat menjadi 2,8%, lebih rendah dari perkiraan pasar.
Namun, kembali memanasnya konflik bulan ini membuat para pembuat kebijakan menyadari bahwa tugas mereka kemungkinan belum selesai. Anggota Dewan Gubernur ECB yang dikenal paling dovish, Yannis Stournaras dari Yunani, bahkan mengatakan setelah serangan kembali terjadi bahwa "kita kembali ke titik awal."
"Dampak penuh dari guncangan harga energi masih belum sepenuhnya terasa," kata Lagarde. "Meskipun inflasi energi menurun pada Juni, kenaikan harga energi sejak awal konflik, serta dampaknya terhadap inflasi pangan, barang, dan jasa, kemungkinan akan membuat inflasi tetap jauh di atas target hingga paruh pertama 2027."
Dalam proyeksi dasar yang disusun staf ECB pada Juni, inflasi diperkirakan mencapai 3% tahun ini, kemudian melambat menjadi 2,3% dan 2% dalam dua tahun berikutnya. Namun, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen energi dan pangan diproyeksikan masih akan berada di atas target ECB sebesar 2% hingga 2028.
Meskipun setelah rapat ini ECB akan memasuki jeda selama tujuh pekan sebelum kembali menggelar pertemuan berikutnya, Lagarde mengatakan para ekonom bank sentral akan tetap sibuk selama periode tersebut, bukan hanya menyusun proyeksi ekonomi terbaru.
"Kami meminta staf melakukan analisis yang benar-benar mendalam untuk pertemuan September," ujarnya. "Jika melihat harga energi, minyak memang sudah naik dan masih terus meningkat hingga saat ini. Namun harga gas juga mengalami kenaikan yang signifikan. Dengan tingkat persediaan yang relatif rendah, kondisi ini juga akan menjadi salah satu hal yang kami cermati secara serius."
(bbn)































