Bank Mandiri melihat peluang besar dalam pembiayaan pembangkit energi terbarukan yang selaras dengan arah kebijakan nasional yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Selain itu, perseroan juga membidik pembiayaan proyek waste to energy (WTE) seiring meningkatnya kebutuhan pengelolaan sampah nasional.
Sektor ini dinilai strategis sebagai infrastruktur hijau yang mendukung transisi energi bersih sekaligus mendorong ekonomi sirkular melalui pemberdayaan UMKM dalam rantai nilai pengelolaan sampah.
Bank Mandiri turut memasukkan proyek perumahan melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebagai bagian penting pipeline kredit berkelanjutan.
"Bank Mandiri juga memperkuat pembiayaan KUR [Kredit Usaha Rakyat] dan pembiayaan mikro produktif lainnya sebagai tulang punggung ekonomi nasional untuk mendorong produktivitas dan memperkuat akses pembiayaan," tegasnya.
Sebelumnya, BMRI membukukan laba bersih konsolidasi Rp56,3 triliun sepanjang 2025. Angka ini naik 0,93% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp55,78 triliun.
Adapun pendapatan non bunga (non interest income) sebesar Rp48,5 triliun atau tumbuh 14,5%. Bank Mandiri memiliki net interest margin (NIM) sebesar 5,15%.
Selain itu, Bank Mandiri berhasil mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp1.895 triliun atau naik 13,4% dibandingkan 2024. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh sebesar 23,9% atau mencapai Rp2.106 triliun.
(prc/naw)


























