“Visi dari co-founder kami itu bagaimana untuk bisa memberdayakan semua masyarakat. Artinya bagaimana kita bisa memberi kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk mendapatkan income,” ujar Neneng.
Visi tersebut menjadi salah satu alasan yang membuat Neneng melihat Grab bukan sekadar sebagai perusahaan teknologi. Ada kesempatan untuk memberikan dampak kepada masyarakat melalui teknologi dan ekosistem yang dibangun perusahaan.
“Buat saya, hal tersebut sangat menyentuh karena impact-nya dapat dirasakan secara langsung,” katanya.
Berangkat dari Prinsip untuk Selalu Memberikan yang Terbaik
Dalam perjalanan kariernya, Neneng memegang sejumlah prinsip yang kemudian menjadi bagian dari gaya kepemimpinannya. Salah satu prinsip tersebut sederhana, tetapi menurutnya penting untuk terus dijalankan, yakni memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan.
“Dari mulai saya bekerja, pekerjaannya sekecil apapun, saya selalu will always do my best,” ujar Neneng. Selain memberikan yang terbaik, ia juga menekankan pentingnya terus belajar dan mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia.
“Yang kedua adalah bagaimana saya terus belajar untuk selalu keep updated dengan apa yang terjadi di dunia. Kita itu tidak boleh berhenti belajar,” katanya.
Sebagai konsultan, Neneng terbiasa memahami perkembangan industri dan memberikan perspektif kepada perusahaan yang menjadi klien. Pendekatan dan cara berpikir tersebut kemudian ia bawa ketika bergabung dengan Grab.
Namun, menjadi pemimpin perusahaan teknologi dengan ritme yang sangat cepat membuat proses adaptasi tidak selalu mudah.
Pengalaman sebelumnya di dunia konsultasi telah membiasakannya bekerja dalam ritme yang cepat dan dengan tuntutan tinggi. Namun, dinamika di Grab menghadirkan tantangan dengan skala dan kompleksitas yang berbeda, sehingga mendorongnya untuk terus beradaptasi dan belajar.
Salah satu perbedaan terbesar yang ia rasakan adalah kecepatan kerja. Jika dalam dunia konsultasi sebuah meeting dapat berlangsung selama dua hingga tiga jam, di Grab pertemuan berlangsung lebih singkat dan berganti dengan cepat.
Kecepatan tersebut bukan hanya berkaitan dengan ritme pertemuan. Perubahan di industri teknologi juga berlangsung cepat, sehingga perusahaan harus mampu merespons perkembangan pasar, berbagai persoalan yang muncul, serta kebutuhan untuk terus berinovasi.
Dari pengalaman tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari kepemimpinan Neneng.
Memimpin dengan Belajar dari Tim
Neneng tidak melihat posisi sebagai pemimpin sebagai alasan untuk selalu menjadi orang yang paling tahu. Ketika masuk ke lingkungan Grab yang banyak diisi oleh generasi milenial dan Gen Z, ia justru menempatkan dirinya sebagai orang yang perlu banyak belajar.
“Saya memang pada dasarnya nggak pernah merasa bahwa saya harus menjadi orang yang paling tahu. Ketika masuk ke lingkungan yang baru, buat saya, saya yang perlu lebih banyak belajar dan memahami,” ujar Neneng.
Baginya, pemimpin perlu memahami organisasi terlebih dahulu sebelum meminta organisasi memahami dirinya. “Saya perlu memahami industrinya dan mengenal mereka (tim) satu per satu, bukan hanya mereka yang mengenal saya,” katanya.
Pendekatan tersebut juga diwujudkan melalui komunikasi terbuka. Neneng menerapkan open-door policy agar anggota tim memiliki ruang untuk berbicara dan menyampaikan persoalan. “Saya di kantor itu open-door policy, everyone can ask my time, boleh nanya apa aja,” ujarnya.
Cara tersebut membuat hubungan antara pemimpin dan anggota tim tidak hanya bersifat formal. Kedekatan tersebut membuat Neneng tidak hanya melihat dirinya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai sosok yang mendampingi tim secara personal.
Gaya kepemimpinan Neneng kemudian banyak dikaitkan dengan istilah compassionate leadership. Menurutnya, seorang pemimpin perlu mendengarkan, memahami situasi orang lain, dan mampu berada di sisi anggota tim. Namun, kepemimpinan tetap membutuhkan keseimbangan karena seorang pemimpin juga harus mengambil keputusan ketika situasi menuntut.
Dalam konteks tersebut, kepemimpinan bukan berarti selalu memberikan apa yang diinginkan oleh tim. Ada situasi ketika keputusan harus dibuat, termasuk ketika seorang anggota tim melakukan kesalahan.
Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan keteladanan. Neneng melihat bahwa anggota tim pada akhirnya akan memperhatikan bagaimana pemimpinnya bekerja, seberapa besar kepeduliannya terhadap perusahaan, serta bagaimana ownership terhadap organisasi dan orang-orang di dalamnya.
Mengubah Struktur untuk Memperkuat Kolaborasi
Perjalanan Neneng di Grab juga berhadapan dengan perubahan besar. Salah satunya adalah transformasi struktur organisasi yang dilakukan sebelum pandemi COVID-19.
Saat awal bergabung, Grab Indonesia masih menerapkan struktur kerja berdasarkan layanan. Setiap orang memiliki pengetahuan sesuai dengan vertikal bisnis yang dikerjakan, seperti GrabCar, GrabBike, dan GrabFood. Akibatnya, berbagai tim tersebut berjalan seperti unit yang relatif terpisah.
Neneng kemudian memutuskan untuk mengubah pendekatan tersebut menjadi portfolio-based. Dalam pendekatan ini, pekerja didorong untuk memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai berbagai divisi dalam satu area kerja. “Decision-nya adalah saya mau transform. Saya transform itu menjadi portfolio-based,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan tersebut membuat tim dalam satu area dapat berkomunikasi lebih banyak, saling membantu, dan bekerja lintas layanan. Keputusan tersebut menjadi semakin relevan ketika pandemi datang. Di tengah keterbatasan mobilitas, koordinasi menjadi sangat penting untuk memastikan perusahaan dapat merespons kebutuhan masyarakat dan Mitra.
Transformasi Berangkat dari Kebutuhan Nyata
Bagi Neneng, transformasi tidak seharusnya dilakukan sekadar untuk mengikuti tren. Transformasi perlu berangkat dari kebutuhan nyata dan dilakukan secara bertahap, dengan mempertimbangkan manfaat yang dapat diciptakan bagi pengguna, Mitra Pengemudi, dan Mitra Merchant.
Di Grab, transformasi bukan lagi agenda yang dilakukan sesekali ketika terjadi perubahan besar. Transformasi telah menjadi bagian dari cara organisasi bekerja sehari-hari atau business as usual (BAU). Dengan demikian, setiap tim perlu terus mencermati perubahan, memahami kebutuhan pemangku kepentingan, dan mencari cara untuk meningkatkan manfaat yang dapat diberikan.
Perjalanan Grab menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut. Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat, Grab memperluas layanannya dari transportasi ke GrabFood dan GrabExpress, kemudian menghadirkan GrabMart untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Perluasan ini juga membuka sumber permintaan baru bagi Mitra Pengemudi sekaligus memperluas akses pasar digital bagi Mitra Merchant.
Menurut Neneng, setiap transformasi perlu tetap berpegang pada misi Grab untuk mendorong kemajuan Asia Tenggara melalui pemberdayaan ekonomi bagi semua. Prinsip triple bottom line menjadi salah satu dasar agar pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan penciptaan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Namun, transformasi juga perlu dilakukan secara berkelanjutan karena keberhasilan di masa lalu tidak selalu menjamin keberhasilan di masa depan.
“Success of yesterday isn’t guaranteed success of tomorrow. If you don’t transform, you’re going to be left behind,” ujar Neneng.
Dalam situasi yang terus berubah, pemimpin tidak harus selalu memiliki semua jawaban. Peran mereka adalah memberikan arah, memastikan organisasi tetap berfokus pada kebutuhan pengguna dan pemangku kepentingan, serta menciptakan ruang bagi tim untuk terus belajar dan beradaptasi.
“Leaders bukan menghindari perubahan, tetapi mempersiapkan organisasi agar mampu belajar, beradaptasi, dan terus bertumbuh bersamanya,” katanya.
Pemimpin Juga Perlu Menjaga Diri
Menjadi pemimpin perusahaan dengan ritme kerja yang cepat bukan berarti seseorang terbebas dari rasa lelah.
Neneng mengakui bahwa rasa lelah tetap ada. Namun, ia kembali menemukan energi ketika melihat timnya bekerja dengan antusias dan hasil kerja mereka dapat dirasakan oleh para stakeholder.
“Yang membuat semangat itu selalu adalah tentunya seperti saat melihat tim excited juga ketika mereka sudah bekerja keras, lalu melihat hasilnya bisa dirasakan oleh para stakeholder, itu yang membuat kami ikut merasa senang,” katanya.
Ia mencontohkan, semangat tersebut muncul ketika melihat omzet Mitra Merchant meningkat, kesejahteraan Mitra Pengemudi bertambah, hingga anak-anak Mitra dapat menyelesaikan pendidikan melalui program beasiswa Grab, GrabScholar.
“Satisfaction-nya itu nggak kebayar ya,” ujar Neneng.
Pada akhirnya, bagi Neneng, kepemimpinan bukan sekadar tentang berada di posisi paling atas dalam organisasi. Kepemimpinan merupakan proses untuk terus belajar, memahami orang lain, beradaptasi terhadap perubahan, serta memastikan setiap keputusan dapat memberikan dampak bagi ekosistem yang lebih luas.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari perjalanan Neneng dalam memimpin Grab Indonesia di tengah industri yang bergerak cepat dan terus berubah.
Saksikan pembahasan selengkapnya bersama Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia, dalam Bloomberg Technoz Podcast – POV Talks berikut ini:
(red)
































