“Jika dilakukan dengan benar, penyesuaian sesi latihan dan pengurangan kecepatan lari saat cuaca lebih panas memungkinkan pelari memperoleh manfaat latihan yang sama seperti ketika berlari dengan kecepatan lebih tinggi pada hari yang lebih sejuk,” ujarnya.
“Tubuh kita tidak mengenali kecepatan, melainkan tingkat upaya.”
Selain itu, Profesor fisiologi manusia di University of Oregon, Christopher Minson menyarankan atlet mulai mempersiapkan diri setidaknya satu bulan sebelum perlombaan. Namun, idealnya, paparan panas menjadi bagian rutin dari program latihan mereka. Caranya bisa berupa mengunjungi sauna atau berendam di bak air panas setelah latihan, menjadwalkan latihan berintensitas rendah pada waktu yang lebih panas, serta berlatih di ruangan berpemanas. Ia mengatakan atlet sebaiknya tidak menggunakan sesi latihan penting, seperti latihan interval, untuk paparan panas.
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan pelari adalah pergeseran waktu ketika suhu mencapai puncaknya, kata Emma Kirk-Odunubi, ilmuwan olahraga sekaligus pelatih lari di London.
“Dulu, pukul 12.00 hingga 14.00 merupakan waktu terpanas. Namun, sekarang periode tersebut terkadang berlangsung hingga lewat pukul 17.00 atau 18.00, sehingga orang harus menyesuaikan kembali jadwal mereka secara menyeluruh.”
Inilah salah satu alasan para atlet di Phoenix, yang menghadapi panas terik tanpa henti, sejak lama terbiasa beraktivitas pada malam hari.
Selain itu, perlengkapan juga perlu diperhatikan. Terutama menggunakan pakaian yang tidak membuat kesulitan bernapas.
“Jika dalam pikiran Anda berkata, ‘Saya mengenakan pakaian yang lebih ringan, ini akan membantu saya bernapas,’ secara psikologis Anda akan memperoleh keuntungan dari hal tersebut,” ujar Kirk.
Para pelari juga telah menambahkan peralatan pendingin untuk di kepala dan bagian tubuh lainnya agar bisa mengontrol panas tubuh.
Ada pula Aero-FIT, bahan kain yang dirancang untuk membantu mendinginkan tubuh dan pertama kali terlihat pada seragam para pemain di Piala Dunia musim panas ini.
Teknologi pendingin hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perlengkapan sederhana hingga produk khusus. Adidas menawarkan pelindung lengan seharga US$20 yang menggunakan bahan Climacool. Lululemon menjual ice neck wrapseharga US$38, sementara Oiselle menawarkan kaus tanpa lengan model racerback seharga US$62 yang dibuat menggunakan Brrr°, bahan performa dengan efek pendinginan.
Di segmen harga lebih tinggi, terdapat kaus Raide RaceTech seharga US$149. Kaus ini memiliki kantong penyimpanan di bagian belakang yang juga bisa digunakan untuk membawa es, sehingga mengubahnya menjadi sistem pendingin portabel.
Lalu ada ikat kepala Omius yang menggunakan blok grafit untuk menarik panas dari kulit saat air menguap. Bagi Dimascio-Donohue, yang berencana mengenakannya pada hari perlombaan, efeknya terasa jelas.
“Rasanya seperti ada kantong es yang diikatkan di dahi,” ujarnya.
“Ketika bagian itu didinginkan, efeknya lebih terasa dibandingkan jika Anda mendinginkan bagian tubuh lain, seperti lengan,” kata Gustavo Cadena, pendiri Omius. Hal ini disebabkan dahi memiliki konsentrasi kelenjar keringat dan reseptor termal yang tinggi.
(spt)




























