Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Tembus Rp18.000/US$, Ekonom Sebut BI Rate Bukan Solusi

Pramesti Regita Cindy
19 October 2026 15:00

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah menyentuh level psikologis Rp18.000/US$.

Lalu, apa yang harus dilakukan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saat ini? Apakah Bank Indonesia perlu menaikkan level suku bunga acuan atau BI Rate untuk menahan pelemahan rupiah?

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan Bank Indonesia (BI) layak memilih kebijakan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi opsi utama hanya ketika pelemahan rupiah berubah menjadi koreksi pasar uang yang tidak terkendali atau disorderly adjustment.


Artinya, kondisi rupiah terus mencetak level terendah, aliran modal asing keluar atau outflow meluas dari saham hingga Surat Berharga Negara (SBN), ekspektasi inflasi naik, dan intervensi pasar kehilangan efektivitas.

"Jadi, angka Rp18.000 penting secara psikologis, tetapi bukan pemicu mekanis untuk menaikkan suku bunga," kata Syafruddin, Senin (19/10/2026).