Menurut dia, bank sentral belum perlu menaikkan BI Rate hanya kareana rupiah menembus Rp18.000/US$. Saat ini, JISDOR sudah berada di Rp18.052 pada 16 Oktober 2026, sementara BI Rate telah dinaikkan menjadi 5,75% sejak Juni.
"Dalam kondisi sekarang, persoalan utamanya bukan sekadar selisih bunga, tetapi kombinasi yield global tinggi, shock MSCI, foreign outflow, dan melemahnya kepercayaan pasar," jelas Syafruddin.
Dia menjelaskan, kenaikan BI Rate sebesar 25 basispoin (bps) dapat memberi sinyal defensif dan memperbaiki carry rupiah, tetapi biayanya adalah kredit, investasi, dan pertumbuhan ekonomi yang ikut tertahan.
"Pilihan dasar yang lebih proporsional adalah mempertahankan 5,75% sambil memperkuat intervensi spot, DNDF, NDF offshore, serta stabilisasi SBN," katanya.
Dia menambahkan, kenaikan suku bunga tidak sepenuhnya efektif, tetapi daya kerjanya terbatas jika shock berasal dari repricing risiko dan persoalan kredibilitas pasar. BI-Rate yang lebih tinggi dapat memperlebar imbal hasil relatif aset rupiah, menahan ekspektasi depresiasi, dan memberi sinyal bahwa BI tidak membiarkan tekanan kurs masuk ke inflasi.
"Masalahnya, suku bunga tidak dapat memperbaiki opacity kepemilikan, kekhawatiran MSCI, forced selling index, atau kebutuhan investor asing mengurangi eksposur Indonesia," katanya.
Jika sumber tekanan adalah foreign de-risking, lanjut dia, investor dapat tetap menjual saham meskipun carry rupiah naik. Bahkan kenaikan yang terlalu agresif dapat menambah tekanan pada valuasi saham, biaya pembiayaan korporasi, dan pertumbuhan domestik.
Karena itu, efektivitas kebijakan harus dinilai dari sumber guncangan. Untuk likuiditas dan sentimen guncangan, intervensi valas, komunikasi yang kredibel, perbaikan tata kelola pasar, dan koordinasi OJK-BEI lebih langsung. Suku bunga berfungsi sebagai lapisan pertahanan tambahan ketika tekanan mulai mengancam inflasi dan stabilitas makro.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah hari ini (19/10/2026) kembali dibuka melemah 0,23% ke Rp18.053/US$, menyusul berlanjutnya tekanan di pasar saham dan kekhawatiran akan arus keluar modal asing dari pasar RI, setelah pengumuman MSCI pekan lalu.
Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) juga bergerak melemah di kisaran Rp18.074/US$. Sementara, harga minyak mentah berada di US$105/barel dan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di 101,84 masih membebani sentimen eksternal.
(lav)




























