Logo Bloomberg Technoz

Analis: Kondisi Rupiah Bergantung Respons Pemerintah Urus Ekonomi

Pramesti Regita Cindy
19 October 2026 11:10

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka melemah 0,23% menembus level Rp18.053/US$ pada perdagangan hari ini, Senin (19/10/2026). Pelemahan terjadi menyusul berlanjutnya tekanan di pasar saham dan kekhawatiran arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia, setelah pengumuman MSCI pekan lalu. 

Analis Komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong menilai risiko rupiah terus melemah melewati level Rp18.000/US$ terus terbuka, bergantung pada respons pemerintah terhadap ancaman MSCI.

"Untuk kondisi kali ini, intervensi BI saja tidak cukup, polemik di pasar ekuitas kali ini melibatkan dana asing miliaran dolar AS," kata Lukman kepada Bloomberg Technoz, Senin (19/10/2026).


Dia menambahkan, selain intervensi di pasar valuta asing (valas), BI juga perlu menjaga likuiditas dolar AS dan mempertimbangkan kebijakan suku bunga secara hati-hati agar stabilitas rupiah tetap terjaga tanpa terlalu menekan pertumbuhan ekonomi. 

Menurut dia, berbagai upaya kebijakan bank sentral tidak akan efektif jika dijalankan sendiri. Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) juga harus segera memulihkan kepercayaan investor. Caranya, melalui reformasi tata kelola pasar modal, khususnya transparansi kepemilikan saham dan penegakkan hukum yang konsisten.