Jika rupiah terus melemah, lanjut dia, hal itu akan berdampak pada meningkatnya biaya impor, terutama minyak dan bahan baku industri, yang akhirnya mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Beban perusahaan yang memiliki kewajiban valas juga akan meningkat, sehingga berpotensi menekan margin keuntungan dan investasi.
Berdasarkan data tim riset Bloomberg Technoz, rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak melemah di kisaran Rp18.074/US$. Sementara, harga minyak mentah berada di US$105/barel dan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di 101,84 masih membebani sentimen eksternal.
Dari Asia, pergerakan mata uang relatif beragam merespons pergerakan harga minyak dan aset dolar AS. Baht Thailand menguat 0,15%, diikuti won Korea Selatan 0,11%, ringgit Malaysia 0,07%, yuan China dan offshore masing-masing 0,02%, serta dolar Hong Kong menguat terbatas 0,01%. Sebaliknya, dolar Taiwan melemah paling tajam 0,42%, diikuti peso Filipina 0,17%, dan dolar Singapura 0,04%.
Penguatan di pasar valuta Asia ditopang oleh tidak adanya kepastian dari Kevin Warsh, Ketua The Fed, mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan IMF-Bank Dunia di Bangkok pekan lalu.
Sikap dovish itu muncul meski tekanan inflasi AS menunjukkan kenaikan, seperti tercermin dalam data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS dan Indeks Harga Produsen (PPI) September yang naik.
Di tengah tekanan eksternal dan sentimen risk-off di pasar domestik, Bloomberg Economics memperkirakan Bank Indonesia akan mengerek suku bunga acuannya menjadi 6% pada pertemuan Oktober ini.
"Rupiah, yang telah melemah 1,2% terhadap dolar AS dalam sebulan terakhir, berkinerja lebih buruk dibandingkan mata uang Asia lainnya, meskipun BI telah melakukan intervensi yang semakin mengurangi cakupan cadangan devisa untuk menopang stabilitas nilai tukar," ujar Bloomberg Economics dalam catatannya.
Selain itu, Bloomberg Economics juga menilai inflasi akan meningkat dan diperkirakan dapat menembus batas atas sasaran inflasi 1,5%-3,5%, meskipun saat ini belum melampaui batas tersebut.
Rupiah diperkirakan melanjutkan pelemahan ke rentang Rp18.050-Rp18.070/US$ dalam perdagangan spot hari ini, seiring aksi jual secara luas juga terjadi di pasar obligasi domestik.
(lav)

























