"Yield TTM mengukur dividen yang sudah dibayarkan di masa lalu, bukan jaminan bahwa besaran nilai dividen yang sama akan kembali dibagikan di masa depan," ujar Head of Department BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani dalam risetnya, Jumat (16/10/2026).
Keberlanjutan pembagian dividen bernilai tinggi sangat bergantung pada realisasi laba bersih serta rasio pembayaran (payout ratio) sepanjang tahun berjalan, terutama bagi sektor yang rentan fluktuasi komoditas.
Di barisan saham dengan imbal hasil teratas, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan yield TTM tertinggi yang menyentuh angka 14,8%.
Kenaikan tingkat imbal hasil juga terlihat pada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 12,6%, disusul PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di level 11,7%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 11,6%, serta PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebesar 11,3%.
Secara keseluruhan, sebanyak 14 dari 20 saham papan atas kini menawarkan yield TTM di atas 8%.
Sementara imbal hasil terendah tercatat pada PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 4,2%, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) 4,4%, dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) 4,6%.
Tingginya yield dividen ini dinilai dapat menjadi daya tarik pertahanan bagi investor yang mengincar pemasukan pasif di tengah gejolak pasar.
Meski demikian, bobot saham-saham perbankan besar dan konglomerasi masih mendominasi pergerakan indeks serta menjadi pendorong utama arus keluar modal asing.
"Saham-saham seperti BBRI, BMRI, BBCA, ASII, dan TLKM menguasai sekitar 66% bobot dari daftar emiten bertimbal hasil tinggi ini dan juga merupakan konstituen terbesar di MSCI Indonesia," kata Chory.
"Kelompok saham ini menjadi yang paling terpapar risiko outflow dari dana pasif jika rencana reklasifikasi MSCI tersebut benar-benar terealisasi,” tambah dia.
Melihat tingginya tingkat ketidakpastian pasar saat ini, investor diimbau tidak tergesa-gesa melakukan aksi beli secara masif hanya karena tergiur oleh besaran angka yield yang membengkak akibat jatuhnya harga saham.
Yield tinggi memang mampu memberikan bantalan terhadap penurunan valuasi, tetapi tidak bisa serta-merta menahan gelombang tekanan jual dalam jangka pendek.
Menurut analisis BRI Danareksa Sekuritas, akumulasi secara bertahap pada emiten yang memiliki neraca keuangan kuat serta payout ratio yang stabil jauh lebih rasional dilakukan, daripada membeli sekaligus dalam jumlah besar selama isu ketidakpastian MSCI ini belum sepenuhnya selesai.
Untuk diketahui, kejatuhan IHSG pada pagi hari ini menjadi yang terendah sejak 2020 atau terlemah dalam enam tahun lebih perdagangan saham.
Sepanjang perdagangan pagi hari ini IHSG makin ambles terjerembab di zona merah, dengan tekanan jual yang makin deras, rentang perdagangan terjadi pada area level 5.404,5 sampai dengan terendahnya hingga menyentuh 5.193,22.
Transaksi perdagangan saham didominasi aksi jual dengan volume mencapai 8,61 miliar saham dan nilai transaksi Rp3,17 triliun. Frekuensi yang terjadi sebanyak 244 ribu kali diperjual belikan.
Hanya ada 18 saham yang menguat. Sedangkan sebanyak-banyaknya 675 saham melemah dan 30 saham lainnya tidak bergerak.
(roy)



























