Lain halnya dengan Pertamax. 57 SPBU dilaporkan tersedia, dengan 38 lokasi akan segera habis. Sisanya 86 titik kemungkinan kosong berdasarkan laporan warga.
BBM Solar kemungkinan tersedia di 161 SPBU, dimana 18 sisanya mungkin segera habis. Kemungkinan hanya dua titik pom bensin di Bali yang mengalami kekosongan.
Baca Juga: Ketahanan Energi Harus Dipastikan hingga SPBU
Pengembang Bali Fuel Watch memastikan tidak terafiliasi dengan Pertamina. Kehadiran prototipe ini murni untuk memberikan informasi yang bersifat umum.
Bali Fuel Watch bersifat independen dan menyajikan informasi berbasis prakiraan hasil dari model statistik serta laporan pengguna yang bersifat anomim. "Informasi ini bisa tidak lengkap, tidak mutakhir atau keliru, dan tidak diverifikasi," terang Bali Fuel Watch
Solusi di Tengah Krisis Pertalite & Pertamax
Aplikasi monitoring dari Bali Fuel Watch menjadi solusi warga serta mencegah antrean yang mengular sekitar SPBU, dimana Bali bersama 10 provinsi lain, seperti Jawa Barat, Aceh, hingga Sulawesi Tenggara, sebelumnya dilaporkan menjadi wilayah dengan antrean pengisian yang masif.
Ombudsman sejak kemarin mendorong adanya evaluasi secara menyeluruh atas situasi krisis distribusi BBM, sebagaimana diutarakan pula oleh Muhammad Kholid Syeirazi anggota Dewan Energi Nasional (DEN). Kholid lantas menegaskan bahwa stok nasional masih di kisaran 18-20 hari, mengutip data Kementerian ESDM.
Kelangkaan yang menyebabkan antrean harus jadi perhatian serius pemerintah, bahkan jika diperlukan untuk segera mengambil langkah darurat, disampaikan Institute for Essential Services Reform (IESR).
"Kelangkaan di lapangan saat ini tidak hanya menimpa jenis Pertalite, tetapi juga Pertamax di sejumlah SPBU. Keterlambatan kapal sandar memicu penurunan ketersediaan stok di SPBU hingga berkisar 30-40%," cerita Kholid.
(red)





























