Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Kian Terjepit, IHSG Amblas, Tekanan Eksternal Hantui Pasar

Tim Riset Bloomberg Technoz
13 October 2026 09:40

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Selasa (13/10/2026) dengan pelemahan 0,18% ke Rp17.935/US$. Tak lama berselang, pelemahan rupiah bertambah 0,2% ke Rp17.939/US$ pada 09.10 WIB. 

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh faktor eksternal dan diperparah dengan sentimen domestik sebagai pemberat. Dari sisi eksternal, harga minyak bertahan tinggi US$105/barel akibat konflik berkepanjanan di Timur Tengah, apalagi kelompok Houthi menyerang Bandara Riyadh di Arab Saudi dan menelan korban sebanyak 12 orang. 

Kenaikan harga minyak juga diikuti dengan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang bertahan tinggi di level 102, bersamaan dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed. Berdasarkan Fedwatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed naik jadi 20,5% dari sebelumnya 17%. 


Dari sisi domestik, sejumlah sentimen pemberat terjadi sejak perdagangan kemarin. Pagi ini, Indeks Saham Gabungan (IHSG) turun ke 5.878,76 dipicu spekulasi investor yang semakin liar.

MSCI diisukan akan mengenakan denda untuk sejumlah emiten di Indonesia yang dinilai memiliki konsentrasi pemegang saham tinggi hingga memicu 'manipulasi' harga saham.