Selain itu BI juga menjadwalkan lelang Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dengan target indikatif US$1 miliar menjelang penutupan pasar, yakni pada pukul 14.00-15.00 WIB. Sementara itu, BI juga memenangkan Rp3 triliun dalam lelang BI-FRN, dengan rata-rata tertimbang margin pemenang sebesar 1,4%.
Intervensi ini setidaknya mampu meredam volatilitas rupiah yang hari ini diperkirakan dapat bergerak hingga Rp18.000/US$ akibat tekanan eksternal serta diperparah dengan sentimen domestik, khususnya di pasar saham.
Saat perdagangan valuta asing tutup, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah 0,47% ke 5.907 tertekan oleh aksi jual.
Di sisi lain, pergerakan rupiah juga terbebani sentimen prospek pertumbuhan yang tergambar dari melemahnya keyakinan konsumen dan angka penjualan ritel yang naik namun tekanan daya beli masih terlihat dari komposisi belanja rumah tangga yang semakin besar untuk konsumsi, sementara ruang untuk menabung kian terbatas.
Pelemahan terutama tampak pada kelompok pengeluaran Rp1-Rp2 juta per bulan, dengan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) kelompok ini sebesar di 93,2, berada di zona pesimis.
Di saat yang sama, proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% jadi 74,9%. Indikator itu mengisyaratkan bahwa meski aktivitas belanja masih berlangsung, keuangan rumah tangga untuk menyerap kenaikan harga dan menghadapi pengeluaran tak terduka semakin terbatas.
Kondisi itu menjadi tantangan bagi prospek pertumbuhan ekonomi, lantaran konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Pelemahan daya beli berpotensi menggerus ruang pertumbuhan PDB.
Pekan ini, rupiah akan kembali diuji dengan rilisnya data inflasi konsumen AS yang akan tergambar pada Consumer Price Index (CPI). Data itu akan rilis besok malam waktu Indonesia. Jika inflasi AS kembali menghangat, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed akan kembali merangkak. Ekspektasi itu akan membuat mata uang Asia kembali dalam tekanan.
Berdasarkan Fedwatch, probabilitas itu sudah naik tipis dari 17% menjadi 20,5%. Tingginya harga minyak dunia yang menghidupkan kekhawatiran inflasi, menjadi salah satu pemicunya.
(riset)




























