Logo Bloomberg Technoz

'Vibecession' Menguat, Kelas Ekonomi Ini Justru Makin Sejahtera

Bloomberg Businessweek Indonesia
13 October 2026 09:35

Warga berjalan di pedestrian jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (19/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga berjalan di pedestrian jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (19/8/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di tengah kian maraknya keluhan warga di Tanah Air perihal biaya hidup yang semakin tinggi di tengah stagnasi pendapatan sampai-sampai memicu tren downgrading gaya hidup, juga para pedagang yang berulang mengungkap tentang kelesuan penjualan beberapa waktu terakhir, pemerintah mengklaim bahwa kondisi daya beli masyarakat baik-baik saja.

Persepsi dan klaim yang bertolak belakang itu seakan menebalkan apa yang dalam literatur ekonomi populer dikenal sebagai vibecession -yakni sebuah situasi yang seolah tidak nyambung antara persepsi publik dan data indikator utama makroekonomi. Lantas, apakah ini menunjukkan keluhan warga tentang semakin beratnya beban hidup dari hari ke hari menjadi tidak valid? Atau, pernyataan pemerintah bahwa kondisi daya beli masyarakat baik-baik saja sejatinya adalah klaim kosong?

Melihat data, laju pertumbuhan ekonomi dalam lima kuartal terakhir memang selalu di atas 5%. Bahkan pada kuartal 1-2026, perekonomian Indonesia melaju 5,61% year-on-year, menjadi yang tertinggi sejak III-2022. Sementara sepanjang tahun 2025, tahun pertama pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto berkuasa penuh, perekonomian RI mencetak pertumbuhan 5,11%, menjadi yang tertinggi sejak 2018 silam. Namun, selama tahun pertama tersebut, terungkap pula terjadinya kemerosotan jumlah kelas menengah di Indonesia. 


Melansir data yang dilansir oleh Mandiri Institute beberapa waktu lalu, sepanjang tahun 2025, ada sebanyak 1,1 juta kelas menengah yang turun kelas ke kelompok ekonomi di bawahnya. Penurunan itu melanjutkan tren serupa selama satu dekade sebelumnya.

Badan Pusat Statistik pernah mengungkap, selama 2014-2024 atau ketika pemerintahan dipimpin oleh Presiden Joko Widodo, sebanyak 9,5 juta kelas menengah turun kasta ke kelas ekonomi di bawahnya. Alhasil, secara kumulatif selama lebih dari 10 tahun terakhir, sedikitnya 10,6 juta kelas menengah terperosok lebih miskin. Data itu menjadi penting karena kelas menengah sesungguhnya adalah motor utama konsumsi nasional dengan sumbangan mencapai 80% --bersama kelas aspiring middle class.