Baca juga: Bekerja Sampai Tua di Indonesia Mungkin Keniscayaan
Lantas, bila selama periode tersebut malah terjadi kemerosotan kesejahteraan di kelas ekonomi yang menjadi tulang punggung konsumsi nasional, siapa sebenarnya yang menikmati 'kue' pertumbuhan terbesar ketika laju ekonomi Indonesia kerap dibanggakan sebagai salah satu yang tertinggi dibanding negara-negara maju di kelompok G-20?
Analisis terbaru seperti diangkat dalam laporan Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Oktober 2026 mendapati, angka pertumbuhan ekonomi melampaui 5% yang dibanggakan itu tidak dinikmati merata oleh semua kelas ekonomi.
Selama tahun pertama pemerintahan rezim saat ini, kelompok dengan tingkat pengeluaran terbesar atau kelas terkaya menjadi yang paling menikmati pertumbuhan kesejahteraan. Sementara kelas menengah keluar sebagai kelompok yang paling 'merana' dengan kemerosotan pertumbuhan. Adapun kelas bawah masih tertopang oleh bantuan sosial dan subsidi.
Grafik Growth Incidence Curve di atas menunjukkan pergeseran itu dengan sangat jelas. Terlebih bila membandingkannya dengan dua periode sebelumnya. Pada periode 2014-2019 misalnya, kelas pengeluaran yang berada di tengah masih merasakan pertumbuhan ekonomi lebih besar dibanding kelompok termiskin dan terkaya. Temuan ini diperkuat oleh data gini Rasio yang berhasil diturunkan ke level 0,380 pada 2019.
Baca juga: Ketika 'Makan Bergizi Gratis' Justru Melupakan yang Paling Lapar
Namun, pada periode berikutnya yakni 2019-2024, pertumbuhan ekonomi tak lagi inklusif di mana manfaat dan kebijakan atau program pemerintah lebih banyak terfokus ada 20% kelompok terbawah dan 10% kelompok teratas. Sementara kelompok menengah, di persentil 40%-80% terlupakan. Bahkan kelompok persentil 60%-80% mengalami kontraksi alias tumbuh negatif.
Pola serupa berlanjut pada periode 2024-2025. Seolah menerapkan slogan 'Keberlanjutan' seperti didengungkan di masa kampanye, pemerataan 'kue' ekonomi pada tahun pertama pemerintahan ini bahkan lebih parah bila melihat kurva. Pertumbuhan kesejahteraan dari kelompok menengah terlihat mengalami perlambatan. “Kelompok yang kesejahteraannya tidak baik-baik saja, terutama di kelompok dengan persentil 70% hingga 98% [dalam skala GIC]. Ini yang harus mendapatkan perhatian lebih,” kata Ekonom dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Teguh Dartanto kepada Bloomberg Businessweek Indonesia.
Selama periode itu, laju pertumbuhan banyak tertopang belanja pemerintah yang besar. Pola yang dilanjutkan pada 2026. Hanya saja, terlihat bahwa belanja pemerintah yang dibiayai oleh pajak masyarakat itu, banyak
mengalir untuk kelas atas, mulai dari pemilik dan pengelola SPPG yang menjadi dapur program MBG, hingga kontraktor pembangunan fisik KDMP. “Mereka yang di atas ini mungkin paling banyak menikmati berbagai macam kebijakan pemerintah,” kata Teguh.
Baca juga: Sepinya Stadion, Saksi Bisu Laju Konsumsi Kelas Menengah yang Lesu
Ironisnya, dua program besar pemerintah ini justru begitu banyak mengeruk anggaran dari pos lain –yang biasanya mampu mendongkrak konsumsi masyarakat– lewat mekanisme realokasi. Sebagai contoh, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih menggunakan dana desa yang dahulu banyak digunakan membiayai aktivitas padat karya lokal, mulai dari pembangunan jalan, irigasi, hingga sanitasi.
Sama halnya dengan anggaran MBG, yang sebagian bersumber dari realokasi anggaran pendidikan untuk salah satunya membiayai guru honorer daerah. “Inilah fenomena kenapa uangnya sama, tetapi yang dirasakan berbeda,” terang Teguh.
Ulasan lebih lengkap tentang isu ini bisa Anda baca di Bloomberg Businessweek Indonesia Edisi Oktober 2026. Edisi ini juga mengangkat isu di balik kian sepinya bisnis penggemukan sapi. Juga tantangan besar yang menghadang perusahaan maskapai penerbangan sampai-sampai ramai menutup rute penerbangan yang sejatinya cukup sibuk dan populer.
Setiap laporan dirangkai dengan pendekatan jurnalisme mendalam khas Bloomberg Businessweek yang menonjolkan data, konteks, dan cerita manusia di balik sebuah peristiwa. Untuk mengakses liputan lengkap, pembaca dapat menikmati seluruh konten Bloomberg Businessweek Indonesia dalam berbagai edisi tanpa batasan dan biaya. Cukup daftarkan email di https://www.bloombergtechnoz.com/businessweek untuk menikmati keseluruhan artikel dan membaca e-magazine di sini.
(bbw)




























