Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Terlemah di Asia 2026, Ini Dampaknya Buat Rakyat

Redaksi
12 October 2026 16:29

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah bertahan di level Rp17.900/US$ pada perdagangan Senin (12/10/2026). Pergerakan rupiah hari ini relatif terbatas, dan belum sepenuhnya mencerminkan bahwa tekanan eksternal telah mereda.

Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menjelang rilis data inflasi dan kenaikan minyak mentah lantaran ketidakpastian di Timur Tengah masih membayangi prospek mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Jika ditarik ke belakang, maka pelemahan rupiah telah berlangsung sepanjang tahun. Rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia dengan depresiasi hampir 7%.

Rupiah melemah bersama sebagian mata uang Asia sepanjang tahun 2026 (hingga 5 Oktober 2026). (Bloomberg)

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga berdampak pada inflasi domestik. Kala nilai tukar melemah, biaya impor dalam rupiah berpotensi meningkat, terutama bahan baku indistri, barang modal dan sejumlah komoditas yang seringkali harganya mengacu pada perubahan harga di pasar global.

Risiko ini kian diperparah dengan harga minyak yang kembali menembus US$104/barel akibat ketidakpastian geopolitik. Kenaikan biaya energi ini sudah merambah ke kenaikan ongkos transportasi, logistik, dan distribusi dan menambah tekanan terhadap harga barang dan jasa.

Proyeksi inflasi. (Bloomberg)