Logo Bloomberg Technoz

Daya Beli Tertekan

Data September sudah mengirim sinyal itu, dengan inflasi tercatat naik menjadi 3,28% yoy. Di tengah kondisi tersebut, tantangan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter bukan sekadar menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga mengantisipasi dampaknya terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

Sinyal adanya pelemahan daya beli sebenarnya sudah berdering, terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru yang turun ke posisi 118,1 pada September dari 118,5 bulan sebelumnya. Posisi ini memang masih berada di zona optimistis, dengan indeks di atas 100.

Namun jika dibedah lebih jauh berdasarkan kelompok pengeluaran, maka terlihat ada jurang persepsi yang kian lebar antara konsumen berpengeluaran rendah dan kelompok berpengeluaran tinggi. 

Kelompok berpenghasilan rendah justru terlihat kian pesimistis. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) September kelompok pengeluaran Rp1-2 juta berada di bawah 100, alias masuk ke zona pesimistis.

Sementara itu, kelompok Rp2,1-Rp3 juta mencatat indeks 102,1 dan kelompok Rp3,1-Rp4 juta sebesar 103,9. Angka tersebut mengindikasikan bahwa persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini paling lemah pada kelompok pengeluaran terbawah.

Perlu dicatat bahwa indeks ini mengukur persepsi kondisi ekonomi, bukan secara langsung jumlah pendapatan riil atau besarnya konsumsi. Namun, jika disandingkan dengan inflasi yang meningkat serta data Penjualan Ritel terbaru, kondisi tersebut memperkuat alasan untuk mencermati bahwa kerentanan daya beli rumah tangga berpendapatan rendah itu nyata adanya.

Bagi rumah tangga berpendapatan rendah, pelemahan nilai tukar rupiah yang menyebabkan kenaikan harga barang kebutuhan tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan menciptakan tekanan yang berlapis.

Kelompok ini umumnya punya porsi pengeluaran yang lebih besar untuk kebutuhan pokok sehingga lebih sulit mengurangi konsumsi tanpa mengorbankan kebutuhan dasar. Di saat harga pangan dan transportasi naik, ruang belanja mereka untuk kebutuhan lainnya kian menyempit.

Bahkan, data penjualan ritel merekam hal tesebut. Sebagian besar kelompok barang masih mencatat kontraksi.

Seperti Bahan Bakar Kendaraan Bermotor terkontraksi 5,7%, diikuti Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya kontraksi 5,7%. Bahkan, kelompok Sandang terkontraksi paling dalam, sebesar 12,4% secara tahunan, dan merosot 15,2 poin secara bulanan. 

Sikap BI

Dalam kondisi ini, BI menghadapi dilema antara menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Stabilitas nilai tukar memang diperlukan untuk membatasi tekanan inflasi impor dan menjaga kepercayaan investor.

Namun, pengetatan moneter yang terlalu agresif berpotensi meningkatnya biaya pinjaman dan menahan konsumsi maupun investasi.

Sebelumnya, BI menegaskan bahwa langkah intervensi akan lebih diarahkan menggunakan insentif hedging dan membatasi penggunaan devisa dengan intervensi di pasar derivatif, seperti Non-Deliverable Forwards (NDF) dan Domestic-NDF.

Namun, intervensi tersebut belum mampu membawa rupiah kembali ke kisaran tahun lalu di level Rp16.500/US$. Sebab dari sisi domestik, cadangan devisa saat ini berada dalam posisi lebih rendah ketimbang posisi di periode sama tahun lalu.

Sebagai catatan, posisi cadangan devisa saat ini berada di Rp146,32 miliar, lebih rendah ketimbang posisi bulan yang sama di tahun lalu sebesar US$148,73 miliar. 

Di sisi lain, neraca perdagangan belum sepenuhnya menopang pertumbuhan devisa secara lebih sehat. Posisi devisa terakhir lebih banyak ditopang oleh arus modal.

Penarikan pinjaman luar negeri itu memang dapat memperkuat posisi cadangan devisa dalam jangka pendek, dan menyediakan likuiditas untuk memenuhi kebutuhan eksternal. Namun, sumber tersebut pada akhirnya akan menciptakan kewajiban yang harus dibayar kembali oleh Indonesia berserta biaya bunga utangnya.

Ke depan, ruang gerak rupiah sepertinya akan kian menyempit dengan bias pelemahan yang lebih dominan jika tekanan eksternal terus terjadi.

(dsp/aji)

No more pages