Logo Bloomberg Technoz

Pakar Soroti Positif & Negatif Wacana Siswa Tidak Naik Kelas

Dinda D
09 October 2026 14:00

Sejumlah siswa mengikuti mengikuti Asesmen Sumatif Sekolah (ASS) di SMK Sint Joseph, Jakarta, Senin (13/4/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sejumlah siswa mengikuti mengikuti Asesmen Sumatif Sekolah (ASS) di SMK Sint Joseph, Jakarta, Senin (13/4/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Wacana kebijakan kenaikan kelas yang tidak lagi otomatis bagi siswa yang diterapkan mulai 2027 mendapat tanggapan dari pengamat pendidikan. Kebijakan tersebut dinilai dapat mendorong murid lebih serius belajar, tetapi juga berisiko merugikan anak yang sebenarnya membutuhkan perhatian lebih dari sekolah.

Pengamat pendidikan Andreas Tambah menilai, salah satu sisi positif kebijakan tersebut adalah munculnya rasa takut, malu, dan rugi jika tidak naik kelas. Kondisi ini dapat mendorong murid untuk belajar lebih serius, meskipun belum tentu didasari kesadaran akan pentingnya belajar.

"Positifnya; ada rasa takut, malu, rugi bila tudak naik kelas sehingga terpaksa harus belajar (namun belajar bukan karena kesadaran atau kebutuhan)," kata Andreas saat dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (09/10).


Namun, Andreas menyoroti risiko keputusan tidak naik kelas yang kurang tepat. Menurut dia, sebagian anak yang mengalami masalah di rumah cenderung menjadi pembuat masalah di sekolah, padahal mereka membutuhkan perhatian dan bantuan.

"Sisi negatifnya: ada vonis tidak naik kelas yang kurang tepat, sebagian besar anak tang punya masalah di rumah pada umumnya menjadi 'trouble maker' di sekolah yang pada umumnya butuh perhatian, namun banyak guru yang kurang care, tidak mencari faktor penyebabnya bahkan memvonis 'Anak nakal' yang bikin masalah, seharusnya anak yang seperti itu harus di tolong," ujarnya.