Menguat, Rupiah Tutup Pekan Ini di Bawah Rp17.900/US$
Tim Riset Bloomberg Technoz
09 October 2026 15:46

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan pekan ini, Jumat (9/10/2026), dengan penguatan terbatas 0,08% ke Rp17.883/US$, menyusul tekanan eksternal yang mulai mereda.
Harga minyak terpangkas 1,11% ke US$103,11/barel, diikuti penurunan yield di pasar obligasi global serta indeks dolar Amerika Serikat (AS). Yield US Treasury tenor 10 tahun turun 4,8 bps jadi 5,23%, Inggris 5,7 bps jadi 5,42%, Prancis turun 8,3 bps jadi 4,8%.
Di pasar Asia, yield obligasi juga ikut terpangkas. Seperti yield obligasi Jepang turun 7,6 bps jadi 3%, Singapura turun 5,1 bps jadi 2,41%.
Penurunan yield pada hampir semua obligasi Asia membawa mata uang kawasan bergerak menguat. Baht Thailand menguat paling tajam, diikuti yuan China, ringgit Malaysia, yuan offshore, dan peso Filipina. Sementara penguatan rupiah, dolar Singapura, dan rupee India lebih terbatas.
Penguatan mata uang Asia tertopang oleh sentimen meredanya ketegangan di Timur Tengah usai pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut tidak akan ada penyerangan lanjutan terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu. Pernyataan ini langsung direspons pelaku pasar yang memangkas sebagian besar kekhawatiran akan gangguan pasokan energi.
































