Di sisi lain, ekspektasi sikap hawkish bank sentral AS Federal Reserve juga kian terpangkas usai rilisnya data ketenagakerjaan yang kurang menggembirakan.
Walaupun mata uang Asia menguat hari ini, selama sepekan justru melemah. Rupee India menjadi yang terlemah dengan depresiasi mingguan 0,46%. Disusul peso Filipina 0,43% dan yen Jepang 0,3%.
Sementara rupiah sepanjang pekan ini relatif stabil dengan pelemahan terbatas 0,04%.
Dari dalam negeri, data penjualan ritel sejatinya naik ikut menopang laju rupiah. Akan tetapi, daya beli yang tertahan juga memangkas sebagian penguatan rupiah hari ini.
Penjualan ritel tercatat tumbuh 1,3% secara tahunan. Pada saat yang sama proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% menjadi 74,9%.
Adapun, porsi pendapatan yang ditabung turun dari 15,8% menjadi 15,4%. Kondisi ini bukan indikasi bahwa konsumsi meningkat, tetapi lebih tepat dibaca sebagai adanya tekanan harga yang membuat porsi pengeluaran jadi lebih besar.
Data ini sejalan dengan laju inflasi yang mulai meninggi pada September menjadi 3,28% yoy dari posisi Agustus 3,19% yoy. Kenaikan inflasi ini sepertinya sudah memengaruhi kemampuan rumah tangga dalam mengatur alokasi pendapatannya.
Harga kebutuhan yang meningkat, membuat konsumen mengeluarkan porsi pendapatan yang lebih besar untuk sekadar mempertahankan tingkat konsumsi yang sama. Akibatnya, ruang menabung maupun membelanjakan uang pada kelompok barang diskresioner menjadi kian terbatas.
Itulah mengapa rupiah hanya menguat terbatas, lantaran sentimen pelemahan daya beli yang berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2026.
Sentimen ini membuat aksi beli di pasar obligasi domestik tidak terjadi secara merata. Hanya tenor pendek dan menengah yang mencatat aksi beli. Sisanya, pelaku pasar masih bersikap hati-hati. Terutama pada tenor menengah dan panjang.
Bahkan, yield tenor acuan 10 tahun masih menanjak ke 7,2%, kala US Treasury dan obligasi negara lainnya mulai terpangkas.
Pelaku pasar juga sepertinya mencermati data penjualan kendaraan bermotor. Penjualan kendaraan kerap menjadi indikator penting untuk mengukur daya beli masyarakat, keyakinan konsumen, juga kecenderungan rumah tangga dalam membelanjakan barang tahan lama atau durable goods.
Mengacu data Gaikindo, penjualan mobil dari dealer ke konsumen pada Agustus masih tumbuh 7,7% secara bulanan. Namun, penjualan sepeda motor justru turun 6,22% secara bulanan, walaupun secara tahunan masih tumbuh 3,4%.
Turunnya angka penjualan sepeda motor dapat menjadi indikator yang relevan lantaran menjangkau segmen konsumen yang lebih luas. Perubahan dalam penjualan kendaraan roda dua ini bisa jadi salah satu indikator mengenai kondisi belanja rumah tangga yang sepertinya sudah mengalami pelemahan daya beli.
(dsp/aji)





























