Logo Bloomberg Technoz

Pertumbuhan permintaan terutama ditopang oleh produksi baja nirkarat atau stainless steel yang masih menjadi penyangga utama konsumsi nikel.

Tren produksi baja nirkarat dunia terus menguat./dok. BMI

Cadangan Bursa

Dari sisi persediaan, gabungan stok on-warrant di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) mencapai 349.000 mt per 30 September 2026, naik 24,6% sejak awal tahun.

Adapun, harga nikel rata-rata sepanjang tahun berjalan hingga 5 Oktober 2026 tercatat US17.480/mt, tetapib harga terus tertekan hingga ke level US$15.665/mt pada 5 Oktober 2026—setelah menyentuh titik terendah tahun berjalan US$15.510/mt pada 2 Oktober 2026.

“Kami mempertahankan perkiraan harga nikel tahunan rata-rata 2026 pada level US$17.000/mt, karena sikap kebijakan Indonesia yang lebih akomodatif terhadap sektor nikel dalam negeri telah meredakan kendala pasokan bahan baku,” tulis BMI dalam riset terbarunya, Kamis (8/10/2026).

“Sementara itu, kelebihan pasokan di pasar yang masih terlihat dan tingkat persediaan yang tinggi terus menekan momentum kenaikan harga yang sempat mendominasi pada awal tahun ini,” tegas BMI.

Inventaris nikel di berbagai bursa logam utama dunia./dok. BMI

BMI memperkirakan arah harga nikel ke depan masih akan sangat bergantung pada kebijakan pasokan Indonesia.

Pendekatan yang lebih fleksibel terhadap rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dinilai dapat memperkuat kelebihan pasokan dan membatasi potensi kenaikan harga sepanjang sisa tahun.

Sebaliknya, kebijakan pengelolaan pasokan bijih yang lebih ketat dapat memberikan dorongan terhadap harga.

Selain itu, BMI menyatakan gangguan operasional akibat kekeringan yang berkaitan dengan El Niño serta terbatasnya ketersediaan asam sulfat juga dinilai dapat menjadi faktor yang menopang harga.

“Harga kemungkinan akan tetap sangat responsif terhadap perkembangan kebijakan Indonesia, karena perubahan ekspektasi mengenai ketersediaan bijih dan produksi nikel olahan telah mendorong perubahan sentimen pasar yang signifikan,” tegas BMI.

Di sisi pasokan, pelonggaran pembatasan Indonesia melalui pemberian kuota tambahan pada kuartal III 2026 dan revisi formula harga patokan mineral (HPM) dinilai telah mengurangi sebagian tekanan terhadap bahan baku dan biaya operasional.

Di tengah kondisi tersebut, impor bijih nikel dari Filipina juga makin menjadi penyangga pasokan Indonesia.

BMI mencatat impor bijih nikel Indonesia dari Filipina meningkat 66,9% secara tahunan menjadi 11,4 juta ton sepanjang Januari—Juli 2026.

Impor nikel Indonesia dari Filipina./dok. BMI

“Meskipun proyeksi kami masih mengasumsikan bahwa tambahan alokasi akan diberikan secara selektif, terutama kepada produsen terintegrasi yang menghadapi kekurangan bahan baku, keterlambatan persetujuan dan pengawasan yang lebih ketat akan membatasi pertumbuhan produksi,” tulis BMI.

Dalam riset sebelumnya, BMI telah merevisi naik proyeksi harga logam nikel 2026 menjadi US$17.000/mt dari sebelumnya US$16.600/mt, akibat pemangkasan kuota produksi dalam RKAB hingga gangguan pasokan bahan baku smelter.

Dalam risetnya, BMI mencatat harga logam nikel rata-rata sepanjang Januari hingga 7 Juli 2026 mencapai US$17.862/mt.

Kenaikan tersebut didorong oleh ekspektasi pasar bahwa pengurangan kuota bijih nikel Indonesia akan memperketat pasokan bijih dan meningkatkan harga bahan baku bagi fasilitas pemurnian dan pengolahan nikel.

Pada saat yang sama, BMI mencatat kekhawatiran terhadap produksi smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia meningkat, akibat terbatasnya pasokan sulfur sehingga makin memperkuat sentimen kenaikan harga nikel.

Adapun, Indef Green Transition Initiative (GTI) memprediksi kondisi kelebihan pasok atau oversupply nikel dunia tidak akan membaik secara signifikan usai Indonesia memastikan tidak akan merevisi kuota produksi dalam RKAB 2026 secara besar-besaran.

Head of Industrial and Transport Decarbonization Indef GTI Andry Satrio Nugroho menyatakan klaim pemangkasan RKAB yang dapat memotong 30% pasokan bijih dunia rupanya hanya bakal mengurangi pasokan nikel primer global sebesar 4%.

Andry memprediksi pasokan nikel global bakal berkurang gegara kebijakan tersebut dari 3,88 juta mt pada 2025 menjadi 3,71 juta mt pada 2026.

Dengan begitu, defisit pasokan yang tercipta hanya 32.000 mt atau 0,85% dari konsumsi dunia.

Kendati begitu, Andy menegaskan kondisi tersebut harus dibandingkan dengan stok atau inventori bursa logam global yakni LME dan SHFE.

Andry mencatat gabungan inventori logam nikel di LME dan SHFE mencapai sekitar 468.000 mt pada pertengahan 2026, sekitar 6,5 pekan konsumsi global sebanyak 72.058 mt per pekan.

Lalu, kondisi tersebut lebih besar 14,6 kali dibandingkan dengan defisit tahunan.

Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta mt sampai 270 juta mt, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta mt.

Nikel dilego di harga US$15.735/mt di LME hari ini, naik tipis 0,34% dari penutupan hari sebelumnya.

(azr/wdh)

No more pages