Logo Bloomberg Technoz

Menurut Yayan, dengan mengunci kontrak jangka panjang di pelabuhan bypass tersebut, Indonesia memiliki jaminan pasokan fisik yang konstan tanpa harus menanggung risiko keterlambatan pengiriman yang memicu lonjakan biaya kelautan.

Langkah ini dinilai mendesak mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi transportasi minyak dunia yang rentan terhadap gejolak geopolitik.

“Jika ketegangan di kawasan tersebut meningkat hingga memicu penutupan atau restriksi jalur pelayaran, dampak lanjutannya dapat melumpuhkan distribusi energi ke berbagai negara pengimpor, termasuk Indonesia,” kata Yayan. 

Kapasitas Cadangan

Secara bersamaan, pemerintah dan Pertamina perlu memperkuat kapasitas cadangan penyangga energi (buffer stock) nasional guna meningkatkan ketahanan pasokan. 

“Diversifikasi jalur dan sumber pasokan yang dibarengi dengan stok cadangan yang memadai akan menjaga stabilitas pasokan BBM domestik serta melindungi perekonomian nasional dari guncangan krisis energi global,” ungkapnya.

Selain itu; kawasan Afrika Barat seperti Angola, Nigeria, dan Gabon juga harus diperkuat karena selama ini telah menjadi tulang punggung pasokan minyak mentah Indonesia.

“Selain itu, bisa prioritaskan Afrika Barat yang sudah menjadi tulang punggung selama ini," ujar Yayan.

Namun, Yayan memberi catatan bahwa ruang tambahan untuk mengamankan kargo dari Afrika Barat cukup terbatas. Indonesia harus bersaing ketat dengan India dan China yang membidik komoditas serupa.

Bahkan, kilang swasta China berani membayar premi hingga sekitar US$22/barel di atas harga Brent untuk mendapatkan minyak jenis Djeno dari Kongo.

Futures minyak Brent./dok. Bloomberg

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total volume impor minyak mentah Indonesia sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai sekitar 11,69 juta metrik ton. 

Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 14,37% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, seiring dengan dinamika penyesuaian pasokan minyak mentah global dan optimasi kilang dalam negeri.  

Dalam lanskap pengadaan mentah dari kawasan Timur Tengah, Arab Saudi memegang peranan kunci sebagai salah satu eksportir utama ke Indonesia. 

Sepanjang Januari—Agustus 2026, volume impor minyak mentah dari Arab Saudi tercatat mencapai sekitar 2,02 juta metrik ton.

Pencapaian ini menempatkan Arab Saudi sebagai negara pemasok minyak mentah terbesar kedua bagi Indonesia, tepat di bawah Nigeria yang memimpin pasokan di angka 2,89 juta metrik ton.  

Meskipun secara volume fisik minyak mentah mengalami penurunan, nilai impor sektor minyak dan gas bumi (migas) Indonesia secara keseluruhan justru membengkak.

Secara kumulatif, nilai impor migas Indonesia periode Januari—Agustus 2026 melonjak hingga 39,03% secara anual menjadi US$29,30 miliar. 

Kenaikan nilai impor yang signifikan ini dipicu oleh fluktuasi harga minyak mentah global serta dinamika геоpolitik di kawasan Timur Tengah yang mengerek rata-rata Indonesia Crude Price (ICP).

Cadangan Kritis

Sebelumnya, cadangan minyak yang menjadi penyangga dunia dari guncangan pasokan kini menipis hingga ke level mengkhawatirkan.

Hal ini menempatkan pasar energi dunia pada risiko kondisi yang memburuk, kecuali Selat Hormuz dibuka kembali, menurut pimpinan Saudi Aramco.

Pimpinan Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan krisis pasokan minyak dunia berisiko memburuk selama Selat Hormuz belum beroperasi penuh dan kepercayaan pasar belum pulih pascakonflik AS-Iran.

"Selama Selat Hormuz belum dibuka fully dan kepercayaan belum pulih, kenyataan pahitnya adalah tekanan di kedua sisi rantai pasokan akan semakin berat," kata Amin dalam Energy Intelligence Forum di London, Senin (5/10/2026). 

Penurunan cadangan minyak global hingga tersisa di bawah 6 miliar barel—dengan hanya 10% yang dapat diakses secara teknis—membuat pelepas cadangan darurat oleh negara-negara ekonomi besar tidak cukup untuk mengatasi ketimpangan pasokan dan permintaan.

Di tengah harga Brent yang terus bertahan di kisaran US$100/barel dan risiko serangan kapal yang tinggi, Aramco berupaya mengamankan pengiriman ke Eropa dan Asia dengan mengoptimalkan armada tanker mandiri.

Selain itu Aramco juga berusaha memulihkan aliran pipa ekspor hingga 80%, mengkaji rute alternatif di luar Selat Hormuz, serta merencanakan peningkatan kapasitas fasilitas penyimpanan minyak hingga dua sampai tiga kali lipat.

(smr/wdh)

No more pages