“Sedangkan pesaing kita dari Timur Tengah, itu harga listriknya US$3 sen/kWh,” lanjutnya.
Perhitungan Kebutuhan
Dia mengungkapkan produksi 600.000 metrik ton aluminium membutuhkan 1 gigawatt (GW) listrik dan cadangan listrik sekitar 350 megawatt (MW), sehingga total pasokan listrik untuk memproduksi 600.000 metrik ton aluminium mencapai 1,4 GW.
Dia menyatakan listrik untuk smelter tidak boleh mati lebih dari 2 jam, sehingga penggunaan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) seperti pembangkit listirk tenaga surya (PLTS) kurang optimal untuk smelter aluminium.
Dia menyatakan jika pasokan listrik smelter terputus lebih dari dua jam, maka setiap perbaikan satu pot smelter membutuhkan biaya sekitar US$200.000, padahal satu smelter memiliki ratusan pot.
“Ke depan kita akan pelan-pelan menambah dengan energi terbarukan. Entah dari PLTS, entah dari, kalau ada nuklir, kita akan siap meng-offtake [menyerap] itu berapapun. Kenapa? Karena kita membutuhkan energi yang sangat besar,” kata Arif.
Lembaga riset energi yang berbasis di Inggris, Ember, mencatat smelter aluminium baru—yang sebagian besar dimiliki perusahaan patungan Indonesia dan China — cenderung menggunakan batu bara sebagai sumber listrik PLTU captive.
Ember mengungkapkan berdasarkan data Earthwise, hingga 2025, terdapat lebih dari 1,3 GW PLTU batu bara captive yang didedikasikan untuk smelter aluminium dan alumina di Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah.
Kondisi tersebut berbeda dengan smelter aluminium pertama Indonesia. Ember mencatat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) masih menyumbang sekitar 4 terrawatt hour (TWh) atau 33% dari total pembangkit captive untuk industri aluminium pada 2025.
Pasokan tersebut terutama berasal dari PLTA Sigura–Gura dan Tangga di sepanjang Sungai Asahan yang memasok listrik ke smelter aluminium PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Kuala Tanjung, Sumatra Utara.
Kendati begitu, Ember mencatat porsi tenaga air dalam pasokan listrik aluminium mulai tergerus seiring dengan beroperasinya smelter-smelter baru yang lebih bergantung PLTU batu bara.
Secara keseluruhan, Ember mencatat produksi listrik PLTU batu bara captive di Indonesia telah setara sekitar 58% produksi listrik dari PLTU batu bara on grid.
Adapun, PLTU captive merupakan pembangkit listrik yang dibangun perusahaan untuk memasok fasilitasnya sendiri, tak disalurkan ke jaringan listrik PLN.
Ember mencatat produksi listrik dari PLTU captive pada 2026 mencapai 134 TWh atau setara 58% produksi listrik PLTU batu bara yang terhubung ke sistem PLN sebesar 233 TWh.
Di sisi lain, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) meramal Indonesia harus membangun PLTU batu bara captive dengan kapasitas total 8 GW untuk memasok listrik kebutuhan smelter alumina dan aluminium, termasuk milik investor China yang sedang getol berekspansi ke Tanah Air.
CREA mencatat ekspansi smelter aluminium di Indonesia didominasi oleh investor asal China, di mana sekitar 75% dari semua proyek alumina dan aluminium domestik merupakan dukungan investasi Negeri Panda.
CREA mencatat saat ini hampir 1,8 GW PLTU captive telah beroperasi untuk mendukung industri aluminium.
Nantinya, kapasitas PLTU captive diprediksi bertambah 8 GW untuk menyokong listrik 32 proyek industri aluminium di provinsi kaya bauksit dan pusat industri di luar Jawa.
"Ekspansi aluminium Indonesia mengikuti preseden berbahaya nikel, yang menunjukkan kurangnya perencanaan antisipatif untuk lokasi industri baru yang akan ditempatkan di dekat potensi energi bersih, atau dirancang untuk konektivitas jaringan di masa depan,” kata Analis CREA Katherine Hasan dalam riset berjudul Indonesia Aluminium Downstream: Following Nickel Into a Captive Coal Boom.
(azr/wdh)





























