Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Berpeluang Menguat, Tapi Yield US Treasury Jadi Penghalang

Tim Riset Bloomberg Technoz
06 October 2026 08:09

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Konsolidasi rupiah diperkirakan masih akan berlanjut. Rupiah mendapat ruang penguatan pada perdagangan pasar spot hari ini, Selasa (6/10/2026), usai harga minyak terpangkas 1,89% kemarin dan pagi ini berada di US$100,28/barel. 

Penurunan harga minyak terjadi lantaran ekspor dari Teluk Persia dikabarkan meningkat. Selain itu, produksi minyak Kuwait dikabarkan telah mencapai sekitar 75% dari level sebelum perang. Arab Saudi juga memangkas harga jual minyak lewat Saudi Aramco, yang mengindikasikan bahwa pasar relatif lebih longgar.  

Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah pagi ini mendapat tenaga dengan penguatan terbatas 0,04% ke Rp17.933/US$. 


Terpangkasnya harga minyak mentah sebenarnya berpotensi memberi sedikit ruang bagi mata uang di pasar Asia. Namun, di sisi lain tingginya yield US Treasury yang kembali bertambah 3,4 basis poin (bps) menjadi 5,3% menahan laju mata uang kawasan. 

Meningginya yield US Treasury diikuti oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di level 102,17. Hal ini juga berpotensi menahan pergerakan sejumlah mata uang di kawasan.