“Ada banyak hal yang perlu dikhawatirkan oleh investor, tetapi laba perusahaan terus menjadi penyeimbang,” kata Mark Hackett dari Nationwide. “Yang menggembirakan adalah bahwa kekuatan ini bukan cuma kebetulan. Kami melihat kombinasi yang sehat antara pertumbuhan dan perluasan margin.”
Suku bunga menjadi “semakin memberatkan” dan ekspektasi pasar tinggi, tetapi perusahaan-perusahaan telah mampu mengatasi tekanan tersebut, katanya.
Para investor kini terlalu pesimistis terhadap saham, padahal laba perusahaan diperkirakan tetap kuat dan lonjakan imbal hasil obligasi tampak semakin tidak beralasan, menurut Mislav Matejka dari JPMorgan Chase & Co.
“Ketenangan relatif di pasar saham di tengah situasi kritis di pasar obligasi dapat dimengerti, mengingat pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat dan ketidakpekaannya terhadap suku bunga akibat booming AI,” kata Lisa Shalett dari Morgan Stanley Wealth Management.
Michael Wilson dari Morgan Stanley mencatat bahwa penurunan valuasi saham AS telah membuat beberapa sektor tampak menarik karena pertumbuhan laba belum menunjukkan tanda-tanda melemah. Tingkat koreksi yang terjadi telah menciptakan “kondisi yang lebih baik” bagi sektor-sektor yang terkait dengan siklus ekonomi, katanya.
“Saham masih memiliki ruang untuk naik dalam enam hingga 12 bulan ke depan di tengah pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan laba yang kuat,” kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office. “Namun, perjalanannya kemungkinan tidak akan mulus.”
Di tempat lain, harga minyak AS turun di bawah US$90. Presiden Donald Trump sedang bersiap untuk melonggarkan pembatasan penggunaan jenis solar yang bebas pajak, sebagai upaya terbarunya untuk menekan biaya bahan bakar esensial tersebut.
(bbn)





























