Pada Oktober 2020, sentimen positif datang secara internal maupun eksternal. Kala itu, pasar keuangan Indonesia berhasil mengatasi masa–masa kritis akibat guncangan Covid-19 yang menjalar terhadap segala sisi, Pemerintah mencatat realisasi investasi sudah mulai kembali bertumbuh, tren arus dana asing yang masuk mencapai lebih dari Rp19 triliun mendorong apresiasi positif pasar.
Optimisme terus melejit setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melanjutkan rebound hingga menguat sepanjang bulan Oktober saat itu.
Dari eksternal, sejumlah negara di dunia juga bergerak aktif terkait dengan percepatan pertumbuhan ekonomi pasca dunia diterpa pandemi, termasuk negara Amerika Serikat (AS) yang mendorong capital inflow disertai iklim bisnis dan global yang mendukung pada masa itu.
Sentimen Bulan Ini
Untuk sentimen Oktober 2026, ada beberapa sentimen dan katalis yang dapat memengaruhi arah dan laju IHSG.
Rilis data inflasi Indonesia periode September 2026 yang terakselerasi, berada pada level inflasi 0,3% secara bulanan (month–to–month/mtm). Lebih atraktif ketimbang Agustus 2026 yang mengalami inflasi 0,21% mtm. Makanan, minuman dan harga tembakau jadi salah satu andilnya.
Sedang dibanding September 2025 (year–on–year/yoy) yang lalu, inflasi tercatat 3,28%. Terapresiasi dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 3,19%.
Selain inflasi, pembuka Oktober ini juga terdapat rilis data aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers' Index (PMI), Indonesia berhasil mencatat kenaikan signifikan di zona ekspansif untuk periode September.
Tercatat, aktivitas manufaktur Indonesia berekspansi pada September, S&P Global melaporkan, PMI Indonesia pada September 2026 berada pada level 52,4. Tumbuh positif dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 49,8 pada Agustus. Capaian PMI manufaktur di 52,4 menjadi yang tertinggi sejak Februari (atau dalam 7 bulan).
Hasil survei PMI manufaktur Indonesia pada September 2026 menjemput kabar positif. Pemesanan baru (new orders) menunjukkan peningkatan, hingga menjadi yang tertinggi sejak Februari dan dunia usaha menyatakan ada kenaikan permintaan.
Kepercayaan yang lebih tinggi juga berhasil membuat permintaan ekspor tumbuh positif. Lajunya menjadi yang tercepat sejak Mei 2022. Penciptaan lapangan kerja pun meningkat pada September, menjadi yang tercepat sejak Februari tahun lalu.
Manufaktur menjadi penting untuk menjadi perhatian dunia investasi. Sebab, manufaktur adalah kontributor utama pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi lapangan usaha. Ketika sektor ini tumbuh dan berekspansi, maka ekonomi secara keseluruhan akan ikut tumbuh.
Selanjutnya pada Oktober 2026 ini akan terdapat agenda laporan posisi cadangan devisa Indonesia pada 7 Oktober, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada 8 Oktober, angka penjualan eceran atau ritel yang diumumkan pada 9 Oktober. Termasuk penantian Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait suku bunga acuan pada 21–22 Oktober 2025.
Bursa Asia
Adapun jika dibanding dengan indeks regional, atau rekan–rekannya di Bursa Asia, IHSG melaju bersama indeks NIKKEI 225 Jepang melesat 3,05%, dan Korea Stock Exchange atau KOSPI menghijau 0,28%, dalam rata–rata historis performa di bulan Oktober yang menguat.
Sementara, dari tetangga, SETI Thailand Index terdepresiasi 0,66%, Straits Times Index Singapura mencatatkan penurunan 0,27%, dan KLCI Bursa Saham Malaysia melemah 0,11%, pada data rata–rata 10 tahun perdagangan saham.
Jika mencermati lebih lanjut, penguatan avg. paling tinggi dijalani oleh indeks NIKKEI 225 Jepang dengan penguatan mencapai 3,05% pada data rata-rata perdagangan saham Oktober dalam 10 tahun terbarunya.
Adapun sentimen yang memengaruhi NIKKEI 225 Jepang adalah optimisme pasar terhadap ekspektasi kebijakan fiskal dan belanja besar dari Sanae Takaichi, Perdana Menteri baru Jepang, yang berhasil menyulut pertumbuhan ekonomi, mendorong prospek cerah dari sejumlah riset dan analis.
Kenaikan Index NIKKEI 225 juga tersulut oleh ekspektasi pertumbuhan perusahaan-perusahaan teknologi dan Kecerdasan Buatan/ Artificial Intelligence (AI) hingga reli tajam pasar saham efek langsung dari booming AI global.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia mengatakan, sejumlah sentimen positif terutama dari dalam negeri mendapat lawan yang berat dari sentimen luar negeri.
Yield US Treasury 10Y sudah di 5,28%, tertinggi sejak 2007. Kemudian, The Fed yang baru menaikkan bunga di September masih membuka pintu kenaikan lagi pada 29 Oktober.
BOJ juga dalam sikap hawkish. Belum lagi perang AS–Iran yang menjaga harga minyak di atas US$90/barel, serta rupiah yang sempat kembali menembus Rp18.000/USD.
"Di saat bersamaan, modal global justru berkerumun di saham AI mega-cap AS menjelang IPO Anthropic senilai lebih dari US$2 triliun, dan Vietnam resmi naik kelas ke Emerging Market FTSE Russell," tutur Liza dalam riset, dikutip Senin (5/10/2026).
Dari sisi teknikal, IHSG sejatinya sudah keluar dari channel dan trendline uptrend yang mengawal kenaikan ke high September di 6.712, dan kini berada di bawah MA10, MA20 & MA50. Indikator RSI 31,5 juga sudah mendekati oversold, sehingga membuka peluang technical rebound.
Support 6.030-6.000 juga sejauh ini terjaga, sehingga tidak menembus kisaran support 5.714-5.607.
Artinya, IHSG butuh naik 15,% ke level psikologis 7.000 dalam tiga bulan. Ada katalis besar, yakni hasil review MSCI periode November, namun hasilnya belum bisa dipastikan.
"Kami memperkirakan peluang IHSG ditutup positif di Oktober 2026 sebesar 55%, di bawah probabilitas historis 83% karena makro tahun ini jauh lebih berat," kata Liza.
(fad)





























