Kantor Keamanan Nasional Korea Selatan menggelar rapat keamanan darurat untuk menilai dampak uji coba Korea Utara tersebut terhadap keamanan serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Pemerintah Seoul mendesak Korea Utara untuk segera menghentikan peluncuran rudal, yang menurut mereka melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Uji coba rudal terbaru ini merupakan yang kedua dilakukan Korea Utara dalam sebulan terakhir.
Peristiwa ini terjadi di tengah tuduhan Seoul bahwa Pyongyang bertanggung jawab atas ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi yang melukai tiga tentara Korea Selatan.
Peluncuran yang dilakukan Korea Utara ini menegaskan keyakinan pemimpin Kim Jong Un bahwa ia dapat terus mengembangkan persenjataan tanpa hambatan, sekaligus menyoroti ancaman yang ditimbulkannya bagi kawasan tersebut.
Korea Selatan telah menuntut permintaan maaf dari Korea Utara terkait insiden ledakan ranjau tersebut; Komando PBB (UNC) menyebut insiden itu sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata antara kedua negara.
Pyongyang membantah keterlibatannya dan mencemooh penyelidikan atas ledakan tersebut sebagai sebuah "lelucon."
Kim terus mempererat hubungan strategis dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan menjaga koordinasi erat dengan China.
Ketiga negara ini makin menyelaraskan diri dalam menentang tatanan keamanan yang dipimpin oleh AS, bahkan di saat Presiden Donald Trump berupaya membuka kembali dialog dengan Pyongyang.
Adik perempuan pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, juga telah memperingatkan bahwa negaranya akan mempertimbangkan strategi militer baru sebagai tanggapan atas peningkatan kemampuan pertahanan Jepang, seraya menegaskan bahwa Pyongyang tidak akan tinggal diam sebagai "penonton pasif."
Dalam laporan penilaian ancaman tahunan terbarunya, otoritas intelijen AS menyatakan bahwa Korea Utara telah "berhasil menguji" rudal balistik antarbenua yang mampu menjangkau seluruh wilayah daratan utama AS serta memperoleh "pengalaman tempur dan teknologi militer yang berharga dari Rusia berkat partisipasinya dalam operasi tempur melawan Ukraina."
Jepang menyatakan dalam buku putih pertahanan terbarunya bahwa Korea Utara telah menunjukkan kemajuan "yang sangat pesat" dalam pengembangan rudal—termasuk rudal hipersonik canggih—menyusul pakta militer antara Kim dan Putin yang disepakati pada 2024.
(bbn)




























