Logo Bloomberg Technoz

Besaran tarif US$90/ton dinilai tidak lagi mampu menutup modal operasional dan biaya pengiriman yang melonjak.

Meski begitu, Hasstriansyah tidak dapat memberikan informasi mengenai usulan asosiasi terhadap harga baru DMO batu bara yang dinilai ideal untuk industri semen.

“Untuk harga DMO kami tidak berani mengajukan angka. Akan tetapi, mudah-mudahan bisa [direvisi menjadi di atas US$90/ton],” katanya.

Disparitas Harga

Tantangan pasokan ini kian terasa berat karena disparitas antara harga pasar internasional dengan batasan harga DMO nasional yang terlampau jauh.

Ketika harga batu bara global melonjak, pemasok domestik dibatasi oleh plafon harga tetap. Hal ini menekan marjin keuntungan para pengusaha penambang dan penyedia jasa logistik secara signifikan.

Menurut asosiasi, jika persoalan ini tidak segera diurai melalui penyesuaian regulasi, industri semen nasional terancam menghadapi keterbatasan pasokan energi secara berkelanjutan.

Kelangkaan batu bara sebagai bahan bakar utama pabrik dapat menurunkan kapasitas produksi semen nasional dan berpotensi memicu lonjakan harga semen di tingkat konsumen.

Untuk diketahui, kelangkaan batu bara untuk industri semen sebelumnya diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Raharjo.

Hal ini terjadi bersamaan dengan adanya fenomena El Niño yang berdampak pada kekeringan sungai hingga menyebabkan kendala logistik pengiriman batu bara ke pabrik-pabrik semen.

Lilik menjelaskan, hingga awal September 2026, persediaan batu bara di sebagian besar pabrik semen terus menipis.

“Per awal September 2026, stok batu bara di sebagian besar pabrik semen menipis hingga hanya tersisa untuk 2 sampai 3 hari operasi,” terang Lilik kepada Bloomberg Technoz, Kamis (24/9/2026).

Dia mengelaborasi kelangkaan bahan batu bara tersebut memaksa beberapa pabrik menghentikan sementara fasilitas produksi mereka, yang mengakibatkan hilangnya potensi pasokan klinker atau bahan setengah jadi semen hingga mencapai 1,2 juta ton.

Lilik juga menegaskan masalah logistik yang sebelumnya sudah terjadi kini kian diperparah oleh fenomena El Niño dan kekeringan aliran sungai yang menghambat jalur distribusi pasokan batu bara ke pabrik-pabrik semen.

“El Niño dan kekeringan sungai memperparah kondisi yang ada, pada logistik batu bara. Sebelumnya memang ada masalah,” tambahnya.

Untuk diketahui, batu bara memiliki peran ganda yang sangat vital dalam industri semen, yaitu sebagai sumber energi panas sekaligus penyumbang bahan baku.

Jenis batu bara yang paling umum dan ideal digunakan oleh pabrik semen adalah batu bara bituminus (bituminous coal), serta sub-bituminus tingkat tinggi.

Pemilihan jenis ini didasari oleh nilai kalornya yang tinggi (sekitar 5.000—6.500 kcal/kg) sehingga mampu mencapai suhu kalsinasi yang dibutuhkan dengan cepat.

Selain itu, batu bara jenis ini memiliki kadar air (moisture) yang relatif rendah serta kadar zat terbang (volatile matter) yang pas untuk menjaga nyala api tetap stabil di dalam tanur.

(smr/wdh)

No more pages