Logo Bloomberg Technoz

Solar merupakan komoditas penting bagi sektor transportasi, pertanian, dan industri. Harganya melonjak akibat perang di Iran dan Ukraina yang mengganggu pasokan. Kenaikan harga tersebut juga menjadi persoalan politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.

Meskipun tambahan pasokan bahan bakar menjadi kabar baik bagi konsumen, pelepasan cadangan terbaru ini hanya menawarkan sedikit kelegaan dalam jangka pendek dan bukan solusi jangka panjang untuk mengatasi tekanan terhadap ketersediaan bahan bakar global.

Meskipun ekspor minyak melalui Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir telah kembali mendekati level sebelum perang, volume produk minyak seperti bensin dan solar dari kawasan Teluk Persia masih sangat terbatas. Selain itu, serangan Ukraina yang terus berlanjut terhadap kilang-kilang minyak Rusia mendorong Kremlin melarang ekspor solar hingga Oktober.

Dalam praktiknya, jumlah pasokan baru yang diumumkan pada Jumat mungkin hanya sebagian kecil dari angka yang disebutkan. Pasalnya, masih terdapat volume cadangan yang cukup besar dari rencana pelepasan sebelumnya, menurut dua diplomat Eropa yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas persoalan sensitif. Pernyataan G-7 tidak merinci jumlah minyak mentah dan solar yang akan dilepas ataupun memisahkan pasokan yang baru disepakati dari pasokan yang telah dijanjikan sebelumnya.

IEA sebelumnya telah mengoordinasikan pelepasan 400 juta barel cadangan pada Maret, tak lama setelah perang Iran pecah. Namun, Trump mengkritik Eropa karena dinilai tidak cukup cepat menyalurkan minyak tersebut ke pasar. Tekanan meningkat pada pekan ini hingga mendorong para pejabat Eropa menggelar pembicaraan darurat pada Kamis, sementara Uni Eropa berupaya menyusun respons terkoordinasi terhadap tuntutan Washington.

Sekitar sepertiga dari cadangan yang semula dijanjikan belum masuk ke pasar, kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol pada Selasa. Hingga hari itu, Jerman belum melepas sekitar 77% cadangan yang dijanjikannya, sedangkan Spanyol baru menyediakan sekitar sepertiga dari komitmennya. Sebaliknya, AS pada pekan ini menyetujui pelepasan tambahan 40 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis (SPR), sehingga menuntaskan kontribusinya dalam kesepakatan Maret.

Berdasarkan pernyataan G-7, rencana tersebut mencakup pelepasan cadangan solar dalam jumlah "signifikan" dalam waktu 20 hari. IEA juga akan membahas pelepasan tambahan jika diperlukan. Menurut sejumlah pihak yang mengetahui persoalan tersebut, pelepasan terbaru ini akan mencakup minyak yang telah dijanjikan dalam kesepakatan Maret, tetapi belum disalurkan ke pasar.

"Kami semua telah berkomitmen bersama untuk melepas cadangan strategis ini sesuai dengan proporsi yang telah saya sebutkan, dengan fokus pada solar," kata Macron, yang saat ini menjabat sebagai ketua G-7. "Kami semua berkomitmen untuk memastikan tidak ada larangan ekspor, dan Presiden Trump secara khusus telah menyampaikan hal ini dengan sangat jelas."

Trump mengatakan dalam unggahan di media sosial pada Jumat bahwa dirinya menyambut baik langkah terbaru tersebut.

"Eropa baru saja menyetujui pelepasan minyak solar dalam jumlah besar dari cadangan mereka yang melimpah," kata Trump. "Prosesnya akan segera dimulai."

Dalam pertemuan pada Jumat, para duta besar Uni Eropa membahas dukungan terhadap pelepasan cadangan tersebut dengan dua syarat, yakni langkah itu tidak membahayakan cadangan strategis dan AS berkomitmen untuk menghindari larangan ekspor energi. Hal itu disampaikan seseorang yang mengetahui pembicaraan tersebut dan meminta identitasnya dirahasiakan karena pertemuan berlangsung tertutup.

Selisih harga solar Eropa terhadap minyak mentah, yang menjadi salah satu indikator utama kekuatan pasar, anjlok hingga US$69 per barel, turun dari US$76,77 pada Kamis, berdasarkan data nilai wajar yang dihimpun Bloomberg.

Prospek tambahan pasokan solar memberikan tekanan besar terhadap margin pengilangan minyak di Eropa. Margin tersebut turun sekitar 10%, dibandingkan dengan penurunan sekitar 5% di AS, menurut Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group. Ia mengatakan, berkurangnya permintaan impor solar di Eropa juga dapat menekan ekspor dan margin di AS. Sementara itu, tambahan pasokan berpotensi mengurangi permintaan minyak mentah dari kilang.

"Langkah ini dapat mengalihkan sebagian ekspor AS ke pasar lain atau kembali ke dalam negeri," kata Joe DeLaura, ahli strategi energi global di Rabobank. "Ini merupakan solusi jangka pendek untuk menunda persoalan selama satu hingga dua bulan lagi."

Harga solar di AS sempat melonjak hingga US$6,53 per galon di tingkat konsumen, sehingga membebani para petani. Sementara itu, harga kontrak berjangka di Eropa beberapa kali menembus US$200 per barel, level yang menurut para pedagang cukup tinggi untuk menekan permintaan.

Eropa hanya memiliki sedikit alternatif selain melepas cadangan darurat untuk memperkuat pasokan. Hal ini terjadi di tengah keputusan China membatalkan sejumlah pengapalan bahan bakar pada Oktober serta perang di Iran dan Ukraina yang masih mengganggu pasar.

(bbn)

No more pages