Logo Bloomberg Technoz

Sementara dari sisi ekspor, pertumbuhan masih ditopang oleh sektor non-migas yang meningkat 7,23% yoy, sedangkan ekspor migas terkontraksi 5,1% yoy.

Secara bulanan, ekspor naik 1,51%, terutama didorong lonjakan ekspor CPO alias minyak sawit, sebesar 15,51% mom. Begitu juga dengan ekspor nikel dan logam mulia yang ikut melonjak masing-masing 93,87% mom dan 56,69% mom. 

Namun, kontribusi ini sejatinya tidak ditopang oleh meningkatnya volume ekspor, melainkan dari adanya kenaikan harga komoditas global. 

BPS menyebut nilai ekspor besi dan baja naik 4,88%, sementara volumenya turun 5,05%, kemudian CPO dan produk turunannya mengalami kenaikan harga 6,57% (dari US$16,66 miliar jadi US$17,75 miliar), padahal volume perdagangan turun 0,39% (dari 16,2 juta ton menjadi 16,13 juta ton). Begitu juga dengan batu bara nilai ekspor naik 4,31% dengan volume ekspor turun 9,33%. 

Sehingga, kinerja ekspor ini ditopang oleh kenaikan harga komoditas global alih-alih adanya ekspansi atau meningkatnya produktivitas dari sisi domestik.

Proyeksi Neraca Dagang

Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rachman memperkirakan kinerja neraca perdagangan diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada 2026. "Agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan mendorong permintaan impor yang lebih kuat, sementara permintaan global yang lebih lemah serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan terus membebani ekspor," kata Faisal. 

Ia menambahkan kondisi itu dapat berkontribusi terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) dan dapat memberikan tekanan pada posisi cadangan devisa. 

Bank Permata memperhitungkan CAD dapat melebar menjadi 2,49% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026, dari 0,09% di tahun lalu. Cadangan devisa juga diperkirakan turun menjadi US$143 hingga 147 miliar pada akhir 2026, jauh dari posisi cadangan devisa tahun lalu yang sebesar US$156,47 miliar. 

(dsp/aji)

No more pages