"Jadi asing kalau masuk ke SRBI dia bisa gunakan underlying SRBI untuk bisa dapat insentif. Jadi dengan hitung-hitungan insentif meskipun 6,76% itu masih cukup menarik secara spread kalau dibandingkan dengan pilihan investasi mereka secara global," pungkasnya.
Sebagai catatan, lelang SRBI pada pekan lalu menghasilkan total penawaran yang masuk mencapai Rp64,11 triliun. Naik lebih dari dua kali lipat ketimbang lelang sebelumnya (11/9/2026) yang Rp30,52 triliun.
Kenaikan permintaan itu terjadi di semua tenor. Tenor 9 bulan meningkat menjadi Rp4,81 triliun dari Rp503 miliar. Sementara, tenor 12 bulan yang menjadi pilihan utama investor mencatat penawaran paling tinggi Rp51,19 triliun, naik dari Rp28,48 triliun pada lelang sebelumnya.
Meskipun permintaan meningkat, tetapi investor bersedia diganjar dengan yield yang lebih rendah. Yield rata-rata tertimbang penawaran tenor 6 bulan turun menjadi 6,76% dari 6,91%. Begitu juga tenor 9 bulan turun menjadi 6,79% dari 6,95%, dan tenor 12 bulan turun menjadi 6,86% dari 7,02%.
(prc/ell)




























