“Kalau dari diskusi kita selama ini, mungkin pekerjaan yang repetitif, yang berulang, yang relatif mudah distandarisasi, itu cenderung akan bisa lebih mudah diefisiensikan dengan AI,” ujarnya.
Namun, penerapan AI seharusnya tidak hanya dilihat sebagai upaya mengurangi pekerjaan manusia. Pasalnya, AI dapat digunakan untuk memaksimalkan potensi manusia dengan membantu aktivitas seperti strategic thinking dan mencari cara kerja yang lebih baik, “kemudian membantu kita untuk mencari tahu cara yang lebih baik,” sebut Suwandi.
Peran Pekerja Akan Bergeser
Suwandi menuturkan, perubahan akibat AI kemungkinan membuat sejumlah peran berkurang, tetapi pada saat yang sama dapat menciptakan kebutuhan terhadap peran lain.
Dia mencontohkan perubahan yang terjadi ketika Microsoft Excel dan spreadsheet mulai digunakan. Saat itu, muncul kekhawatiran pekerjaan clerk atau bookkeeping akan hilang karena sebagian aktivitas dapat dilakukan menggunakan teknologi.
“Ternyata benar, bookkeeping itu turun banget, tetapi pada saat bersamaan dengan penurunan itu, dengan muncul teknologi seperti Excel, muncul profesi yang berhubungan dengan bookkeeping yaitu misalnya di verkauster, di analis,” ujarnya.
Bagi Suwandi, jumlah pekerjaan baru yang berkaitan dengan analisis bahkan dapat melampaui jumlah pekerjaan bookkeeping yang berkurang. “Jadi kita melihatnya, role akan berganti mungkin,” katanya.
Dirinya juga mencontohkan pada bidang human resources (HR). Pekerjaan untuk menangani pertanyaan sederhana dapat semakin banyak ditangani oleh AI. Namun, ketika pelanggan membutuhkan dukungan yang lebih kompleks, perusahaan justru dapat membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan yang lebih mumpuni.
Suwandi menilai, perubahan pekerjaan akibat AI tidak hanya terjadi pada customer service atau pekerjaan yang secara langsung terlihat repetitif. Di Mekari sendiri, proses penulisan kode atau coding kini hampir tidak lagi dilakukan secara manual karena telah banyak menggunakan AI.
“Di case-nya Mekari, kita sudah hampir tidak ada engineer yang melakukan coding manual lagi. Semuanya sudah menggunakan AI. Tetapi apakah kita jadi tidak perlu engineer? Tidak juga,” ungkap Suwandi.
Meski digantikan AI, profesi engineer tetap dibutuhkan untuk pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan dan pengambilan keputusan, seperti menentukan arsitektur produk dan memastikan produk sesuai dengan kebutuhan pelanggan di Indonesia.
“Yang mereka tinggalkan adalah pekerjaan yang saya harus ketik di dokumen atau di coding tool saya. Mungkin lebih ke sana. Jadi kalau saya koreksi, bukan hanya repetitif, tapi mana yang ada area pekerjaan di mana AI itu pasti bisa lebih efisien dan lebih baik,” pungkas dia.
(mef/wep)































