Logo Bloomberg Technoz

Kematian akibat panas ekstrem juga akan terjadi selain kematian akibat cuaca ekstrem lain yang dipicu oleh El Niño, termasuk kebakaran, banjir, dan kekeringan.

"Kami sudah lama bisa memprediksi dampak suhu terhadap tanaman, dan sekarang kami bisa memprediksi dampak terburuknya—kematian," kata Michael Greenstone, penulis laporan, salah satu pendiri Climate Impact Lab dan profesor ekonomi di Universitas Chicago.

"Jumlahnya sangat besar, sehingga bisa membuat mati rasa, terdiri dari orang tua dan anak, kakek-nenek dan tetangga, orang-orang yang pergi bekerja, merawat keluarga, dan menjalani kehidupan mereka," imbuhnya.

Para ilmuwan memproyeksikan bahwa El Niño akan mendorong suhu daratan global naik 1,2 derajat Celcius di atas normal dalam beberapa bulan mendatang.

Menurut studi tersebut, kehangatan yang tidak biasa ini diperkirakan akan terjadi akibat perubahan iklim dalam waktu 20 tahun ke depan, dan akan menyebabkan suhu panas ekstrem sebesar 44% lebih besar dibandingkan perkiraan pada tahun normal.

Penulis mengatakan bahwa El Niño saat ini adalah "kartu pos dari masa depan kita" yang terjadi sebelum dunia punya waktu untuk beradaptasi.

Wilayah yang diperkirakan paling terkena dampaknya sebagian besar berada di wilayah Selatan. Laporan tersebut mengidentifikasi Nigeria sebagai negara dengan perkiraan kematian akibat El Niño terbanyak, dengan perkiraan 31.400 korban jiwa.

Negara lain yang berisiko tinggi termasuk Indonesia, Sudan, India, dan Brasil. Amerika Serikat juga termasuk dalam 20 negara yang paling terkena dampaknya, dengan perkiraan 3.500 kematian.

Laporan ini menggabungkan metode tinjauan sejawat mengenai hubungan antara suhu dan kematian di lebih dari 24.000 wilayah di seluruh dunia dan perkiraan suhu musiman. Proyeksi kematian ini dibandingkan dengan bulan-bulan yang sama dalam rata-rata tahun antara 1996 dan 2025.

Profesor kesehatan dan lingkungan Universitas Warwick di Inggris, yang tidak terlibat dalam laporan tersebut, Raquel Nunes mengatakan "perkiraan 451.000 kematian masuk akal sebagai sebuah model, tetapi hal ini tidak boleh dilihat sebagai prediksi yang pasti. Nilainya terletak pada menyoroti potensi konsekuensi parah dari panas ekstrem yang disebabkan oleh El Niño dan kebutuhan mendesak akan kesiapsiagaan."

Studi tersebut saat ini sedang menunggu tinjauan sejawat, tetapi para ilmuwan mengatakan mereka merilis laporan singkat terlebih dahulu karena El Nino menguat dengan cepat.

"Mengingat masih ada waktu bagi para pembuat kebijakan dan pihak lain untuk mengambil tindakan guna mencegah kematian ini, kami merasa temuan kami tidak bisa menunggu proses tinjauan sejawat berjalan. Tentu saja sudah terlambat untuk mengambil tindakan dalam menghadapi siklus El Niño ini," kata juru bicara Climate Impact Lab.

Langkah-langkah yang dapat diambil oleh berbagai negara mencakup peringatan dini terhadap cuaca panas, rencana aksi kesehatan, memastikan pusat pendingin dan hidrasi tersedia, serta memperluas cakupan layanan kesehatan.

"Meningkatkan tanggap darurat dan menargetkan upaya kita dengan lebih baik dapat menyelamatkan banyak nyawa tahun ini," kata salah satu penulis laporan, Tamma Carleton, kepala fakultas penelitian Climate Impact Lab dan asisten profesor Universitas California, Berkeley.

"Namun, 20 tahun dari sekarang, ketika suhu ekstrem saat ini menjadi normal baru, kita tidak ingin terus-menerus berada dalam keadaan darurat."

(ros)

No more pages