Industri Logam
Ember menyatakan PLTU captive tumbuh sangat pesat didorong ledakan hilirisasi logam di Indonesia.
Think tank energi yang berbasis di Inggris itu mencatat pada 2025 industri pengolahan nikel menyerap lebih dari 81 TWh listrik captive pada 2025 dengan lebih dari 94% di antaranya berasal dari PLTU batu bara.
“PLTU captive tumbuh sangat pesat didorong oleh ledakan hilirisasi logam di Indonesia, sehingga menempatkan pasokan listrik industri di pusat perencanaan nasional,” tegas Ember.
Di sisi lain, lembaga tersebut mencatat produksi listrik captive mencapai 161 TWh pada 2026 dan memiliki selisih sekitar 12% dibandingkan dengan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang tercatat dalam Buku Panduan Statistik Energi dan Ekonomi Indonesia (HESSI) 2025.
Terafiliasi China
Dalam perkembangan lain, kapasitas PLTU batu bara di Indonesia yang terafiliasi China tercatat mencapai 17,1 gigawatt (GW) sejak Presiden Xi Jinping mengumumkan komitmen untuk menghentikan pembangunan PLTU di luar negeri pada 2021.
Hal itu terkuak di dalam studi terbaru think tank energi yang berbasis di Finlandia, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), yang terbit pada Kamis (24/9/2026).
Secara global, padahal, proyek sejenis yang telah dibatalkan mencapai 61,5 GW—setara dengan 6,4 miliar ton emisi CO₂ sepanjang umur pakainya. Sinyal kebijakan energi Indonesia dinilai menjadi salah satu faktor pendorongnya.
Indonesia menampung mayoritas dari kapasitas PLTU captive operasional terkait dengan China yang tercatat dalam analisis ini (94% dari jumlah total 13,2 GW).
"Temuan ini memperlihatkan tantangan transisi energi Indonesia tidak dapat dilihat hanya dari sisi sumber pembiayaan atau asal investasi. Ekspansi hilirisasi Indonesia, seperti nikel dan aluminium, telah menciptakan kebutuhan energi yang besar," beber Industry Analyst CREA Syahdiva Moezbar.
Laporan terbaru CREA bertajuk Five Years On: China Seeds Overseas Renewables Growth But Coal Ban Gaps Persist ini mengungkap, dengan 61,5 GW telah dibatalkan, masih terdapat 36,6 GW kapasitas PLTU terkait dengan China di luar negeri yang telah beroperasi sejak komitmen Presiden Xi hingga Juli 2026.
Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar, dengan kapasitas mencapai 17,1 GW, jauh melampaui Vietnam (3,8 GW), dan Pakistan (3,4 GW).
Dari jumlah tersebut, porsi PLTU captive yang terbesar, tumbuh dari 0,3 GW pada 2021 menjadi 12,5 GW pada 2026.
Sebagai catatan, angka 0,3 GW pada 2021 tidak memperhitungkan kapasitas beroperasi sebelum komitmen President Xi, menjadikan 12,5 GW murni penambahan kapasitas pascakomitmen.
Adapun, menurut Administrasi Energi Nasional, per akhir Juni, kapasitas PLTS China telah mencapai 1.274 GW, hampir menyamai kapasitas batu bara sebesar 1.275 GW.
Dalam proyeksi terbaru industri listrik, total kapasitas pembangkit terpasang China diperkirakan akan mencapai 4.300 GW pada akhir 2025, di mana PLTS dan pembangkit listrik tenaga angin menyumbang sekitar setengah dari total tersebut.
Sementara itu, pangsa tenaga termal diproyeksikan akan turun lebih lanjut menjadi 31%.
Di dalam negeri, dalam bauran energi primer Indonesia sepanjang kuartal I-2026 masih didominasi oleh batu dengan porsi sebesar 33,44%, disusul minyak 31,79%, energi baru terbarukan (EBT) 18,30%, serta gas bumi 16,47%.
(wdh)






























