Sedangkan, indeks dolar AS (DXY) kembali terangkat 0,11% ke 101,2 dan yield US Treasury melonjak sebesar 15,5 basis poin (bps) ke 5,11%, seiring meningkatnya kekhawatiran akan laju inflasi akibat tekanan harga minyak.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tak berdiri sendiri. Penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak secara bersamaan mendorong mata uang negara berkembang ke posisi yang kurang menguntungkan. Investor akan kembali berhati-hati terhadap aset berisiko kala ketidakpastian geopolitik meningkat dan harga energi bergerak naik.
Kemarin, dalam paparan usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), bank sentral tak memungkiri bahwa prospek perekonomian global belum kuat, disertai adanya ketidakpastian di pasar keuangan global, termasuk meningkatnya tensi perang di Timur Tengah yang mengerek harga minyak.
"Pertumbuhan ekonomi global 2026 diperkirakan masih lemah sekitar 3%,diikuti tekanan inflasi yang menigkat menjadi sekitar 4%," kata Destry Damayanti, Gubernur BI, dalam konferensi pers usai RDG.
Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia dapat bergerak menuju 4% atau lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Jika skenario tersebut terjadi, maka BI akan menghadapi dilema yang kian kompleks antara menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi di satu sisi sementara pada saat yang sama juga tidak ingin menaikkan biaya kredit terlalu tinggi sehingga mengganggu ambisi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dalam situasi tersebut, pergerakan rupiah di pasar spot menjadi salah satu indikator penting yang akan menentukan seberapa besar tekanan yang harus direspons BI. Jika pelemahan rupiah relatif terkendali dan terjadi tidak dalam waktu singkat, BI masih punya ruang untuk mempertahankan BI Rate dan mengandalkan instrumen stabilisasi nilai tukar serta insentif hedging.
Namun, sepertinya kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya ekspektasi inflasi bisa mempersempit ruang pelonggaran itu.
Oleh karena itu, respons pasar valuta asing setelah keputusan BI mempertahankan suku bunga menjadi penting untuk dicermati. Apabila rupiah mampu bertahan relatif kuat meski harga minyak kembali menembus US$100/barel, maka hal tersebut bisa jadi sinyal bahwa stabilitas eksternal Indonesi masih cukup terjaga.
Dengan faktor penekan dan sentimen yang berkelindan, penguatan rupiah di pasar spot berpotensi tertahan dan bergerak di kisaran Rp17.750-17.850/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah berisiko melemah hari ini usai kemarin gagal menembus resistance potensialnya. Cermati support Rp17.850/US$ dengan target pelemahan kedua tertahan di Rp17.900/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, maka mata uang Tanah Air berisiko bergerak ke level Rp18.000/US$ yang merupakan support terkuatnya.
Namun jika nilai tukar rupiah menguat hari ini, maka resistance yang patut dicermati ada di level Rp17.770/US$ dan selanjutnya Rp17.700/US$ yang merupakan sMA-100.
(riset/aji)




























