Logo Bloomberg Technoz

Kabar lampu hijau ekspor energi bersih ke Indonesia sehari sebelumnya dikemukakan oleh  Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Rachmat Kaimuddin, setelah sebelumnya pemerintah sempat keberatan dengan rencana tersebut. 

Menurutnya, rencana ekspor energi bersih ke Singapura merupakan bagian dari upaya kolaborasi sektor energi di Asean.

“Mudah-mudahan [dalam waktu dekat] kita akan melihat salah satu contoh konkretnya, yaitu ekspor energi ke Singapura. Jadi beberapa perusahaan telah mendapatkan persetujuan untuk melakukannya,” ujarnya di sesi konferensi pers Indonesian Sustainability Forum (ISF), Kamis (7/9/2023).

Rachmat tidak mengelaborasi siapa saja perusahaan yang telah diberikan izin, berikut volume energi bersih yang akan dikirimkan ke Negeri Singa. Akan tetapi, dia memastikan, ekspor energi ke negeri tetangga tersebut akan dibarengi dengan investasi dari Singapura ke sektor energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.

“Tentu saja tujuannya tidak hanya mengekspor elektron ramah lingkungan, tetapi juga akan membangun manufaktur panel surya dan baterai di Indonesia. Jadi hal ini akan memperbaiki situasi industri serta membagi energi hijau kepada tetangga kita,” ujarnya.

Pada awal Mei, Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan sempat menegaskan penolakan atas permintaan impor listrik berbasis EBT dari Singapura, kecuali negara tetangga tersebut mengucurkan investasi untuk proyek energi bersihnya di Tanah Air.

“Singapura minta supaya kita ekspor listrik clean energy ke sana. Kita enggak mau. Saya bilang enggak mau. Mau kalau proyeknya di kita, jadi kita jual. Jadi jangan mereka yang mengatur,” tegasnya seusai acara Reuni 45 Tahun Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Angkatan 1978 di The Westin Hotel, Jakarta Selatan ( 9/5/2023).

Dalam kaitan itu, Pemerintah Indonesia ingin agar Singapura merealisasikan investasi ekosistem panel surya, yang nilainya ditaksir menembus US$50 miliar. Terlebih, Indonesia memiliki bahan baku pasir silika untuk mendukung industri panel surya tersebut.

“Singapura pikir kita bodoh saja. Dia tenderkan ke perusahaan-perusahaan kita. [...] Jadi sekarang, sektor industrinya [panel surya] harus kita buat di Indonesia. Policy sektor industri ini tidak bisa bersaing dengan China karena China itu kompetitif.  Hanya bisa bersaing kalau ambilnya dari offtaker,” ujarnya.

Patung Merlion di Singapura. Fotografer: Lionel Ng/Bloomberg

Pada Maret, Bloomberg melaporkan Singapura mengambil langkah lanjutan untuk mengimpor sumber energi terbarukan dengan menandatangani perjanjian dengan Indonesia dan Kamboja. RI dan Singapura sepakat untuk bersama-sama mengembangkan energi terbarukan yang dapat membantu memasok negara kota tersebut.

Negara-negara tersebut menandatangani nota kesepahaman untuk membuat kerangka kerja sama komersial pada energi terbarukan, infrastruktur transmisi, dan perdagangan listrik lintas batas, kata Kementerian Luar Negeri Singapura dalam sebuah pernyataan.

Singapura mengeklaim langkah tersebut menandakan bahwa Indonesia akan mendukung ekspor energi bersih, setelah pejabat negara RI tahun lalu memperdebatkan apakah akan melarang atau membatasi pengiriman untuk menjaga lebih banyak pasokan di dalam negeri.

Singapura, yang saat ini menghasilkan 95% listriknya menggunakan gas alam, berupaya mengimpor sekitar 30% dari kebutuhannya pada 2035 untuk mendekarbonisasi ekonominya.

Untuk membantu mencapai tujuan itu, Keppel Infrastructure Holdings Pte mengatakan telah memperoleh persetujuan peraturan bersyarat dari Otoritas Pasar Energi Singapura untuk mengimpor 1 gigawatt kapasitas terbarukan dari Kamboja.

Proyek tersebut akan mencakup kabel bawah laut baru sepanjang lebih dari 1.000 kilometer (620 mil) yang menghubungkan Kamboja dengan Singapura, kata Energy Market Authority (EMA) Singapura dalam pernyataan via surel. Itu lebih jauh dari interkonektor utama saat ini seperti UK-Norway North Sea Link.

Indonesia dan Singapura juga menandatangani pakta untuk meningkatkan investasi asing dan mengembangkan industri manufaktur energi terbarukan di Kepulauan Riau, yang dekat dengan negara kota itu, kata Asosiasi Energi Berkelanjutan Singapura. 

Apa yang disebut rencana Koridor Hijau akan memanfaatkan investasi yang diusulkan dalam pembangkitan untuk kebutuhan Indonesia dan untuk ekspor ke Singapura, kata mereka.

Perusahaan-perusahaan berusaha memanfaatkan potensi tenaga surya Indonesia, yang juga rencananya akan diandalkan untuk memenuhi sasaran iklimnya sendiri. Indonesia juga muncul sebagai penyedia energi utama bagi Singapura, yang memiliki pilihan terbatas untuk pembangkit listrik bebas karbon di dalam negeri, setelah Malaysia melarang ekspor energi terbarukan pada 2021.

Kamboja Royal Group Power Co. akan memasok listrik yang dihasilkan dari 4 gigawatt kapasitas tenaga surya, air, dan angin yang terpasang untuk proyek Keppel. Tunduk pada persetujuan lain, ekspor listrik diharapkan dimulai pasca-2030.

Pemerintah Singapura berencana meninjau proposal impor listrik lainnya dan akan memberikan persetujuan bersyarat sebelum akhir tahun, menurut EMA.

(wdh)

No more pages