Dalam pidatonya di Bangkok (Thailand) pada 16 Oktober lalu, Gubernur The Fed Kevin Warsh tidak memberi sinyal kuat untuk mengetatkan kebijakan moneter. Kondisi ini membawa angin segar bagi mata uang Asia, termasuk rupiah.
Namun, tekanan terhadap rupiah kali ini berpotensi datang dari keputusan MSCI yang mempertimbangkan Indonesia turun ke posisi Standalone Market. Investor juga mendesak MSCI untuk menjelaskan soal peringatan keras terhadap Indonesia.
MSCI mengatakan, kasus Indonesia bukan perkara indeks melainkan masalah pasar dan diperlukan reformasi. Dengan begitu, Indonesia juga perlu meyakinkan MSCI dan investor global bahwa otoritas pasar keuangan Tanah Air mampu meregulasi pasar saham secara efektif.
Di sisi lain, sikap Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga bisa dianggap sebagai langkah hawkish hold untuk menopang roda perekonomian. Namun, langkah ini berpotensi semakin menekan rupiah dalam jangka pendek dan menengah.
Kepala Ekonom PT Bank Permata (BNLI) Josua Pardede mengatakan bahwa keputusan mempertahankan BI Rate cukup tepat dan proporsional tetapi memiliki risiko jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Josua menilai bahwa tekanan tersebut tidak hanya dipengaruhi keputusan BI, tetapi juga ketidakpastian soal tuntutan MSCI, tingginya imbal hasil obligasi AS, harga minyak dunia, serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan The Fed.
Di tengah berbagai sentimen yang ada, rupiah spot diperkirakan bergerak di rentang Rp18.050-18.100/US$. BI diperkirakan akan memperketat kebijakan lebih lanjut jika rupiah bergerak di atas level Rp18.100/US$.
(riset)
































