Penguatan di pasar obligasi global turut merembet di pasar Asia. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun terpangkas jadi 2,88%. Sementara Korea Selatan lebih stabil di 4,16% dan China di 1,62%.
Akan tetapi, pergerakan ini belum sepenuhnya menjalar ke pasar Indonesia. Yield obligasi domestik justru terkerek naik siang ini di hampir semua tenor. Kenaikan yield paling tinggi terjadi di tenor 18 tahun sebesar 15 bps jadi 7,43%.
Yield tenor pendek-menengah juga naik, seperti tenor 2 tahun bertambah 2,7 bps jadi 6,93%, tenor 3 tahun naik 3,3 bps jadi 7,1%, tenor 5 tahun naik 1,1 bps jadi 7,25%. Begitu juga dengan tenor acuan 10 tahun terkerek 1 bps jadi 7,45%.
Penguatan rupiah siang ini ditopang oleh intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar luar negeri. Akan tetapi, langkah BI belum bisa menahan aksi jual di pasar saham dan obligasi siang ini.
Aksi jual itu dipicu oleh kekhawatiran investor setelah pasar saham Tanah Air berisiko turun kasta jadi Standalone Market, menurut MSCI. Kekhawatiran itu juga tercermin di pasar obligasi dengan Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun kembali naik ke 100,76.
Melansir Bloomberg, sepanjang 2026 hingga Oktober, arus masuk dana asing ke surat berharga pemerintah Indonesia tercatat sekitar Rp43,13 triliun. Namun, dana asing yang keluar ternyata lebih besar, mencapai sekitar Rp93,44 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.970/US$.
Sejalan dengan itu, investor asing juga mencatatkan jual bersih saham sebesar Rp8,9 triliun sepanjang bulan ini (month-to-date/MTD). Pada penutupan perdagangan Sesi I, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,84% ke 5.234,35. Secara mingguan, investor telah melepas kepemilikan saham di pasar Indonesia sekitar Rp3,9 triliun.
(dsp/aji)

























