Logo Bloomberg Technoz

Redha yang juga menjabat Professional and Business Director PT Sila Agri Inovasi menjelaskan, perusahaan tidak memiliki kebun teh sendiri. Sebaliknya, Sila bermitra dengan sekitar 25 kebun teh di Indonesia untuk memperoleh beragam jenis teh dari berbagai daerah.

“Kita ingin menjadi khazanah lengkap dari semua teh di Indonesia. Jadi, orang-orang atau calon klien yang mencari berbagai jenis teh Indonesia bisa merujuk ke Sila,” katanya.

Jaringan tersebut memungkinkan perusahaan menawarkan beragam produk teh, mulai dari teh putih hingga teh hitam, serta racikan teh dengan bahan herbal dan rempah alami. Sila juga memiliki sekitar 80 jenis herbal kering untuk dikembangkan menjadi produk minuman.

Menambah Nilai Ekonomi Teh Lokal

Sila Indonesia Artisan Tea (Bloomberg Technoz)

Salah satu strategi Sila adalah meningkatkan nilai tambah produk melalui inovasi racikan atau blending. Perusahaan menggabungkan teh dengan bahan herbal alami untuk menghasilkan karakter rasa yang berbeda tanpa menggunakan perisa tambahan.

Selain menjual produk dengan mereknya sendiri, Sila menjalankan model bisnis manufaktur yang melayani kebutuhan pelaku usaha lain. Perusahaan menyediakan bahan baku, pengetahuan produk, hingga fasilitas pengembangan racikan bagi mitra yang ingin membangun merek teh sendiri.

Model tersebut menyasar pelaku usaha, termasuk pemilik kedai teh, kafe, dan bisnis minuman yang ingin mengembangkan produk berbasis teh lokal. Kerja sama dapat dilakukan melalui skema co-branding maupun white label.

Redha menilai, pengembangan teh artisan tidak hanya berkaitan dengan inovasi produk, tetapi juga upaya memperbaiki nilai ekonomi di sepanjang rantai pasok, termasuk bagi petani dan pekerja perkebunan.

Dia menyoroti penyusutan lahan perkebunan teh dalam dua dekade terakhir akibat konversi ke komoditas lain. Padahal, perkebunan teh di kawasan lereng memiliki fungsi ekologis, antara lain membantu menjaga tata air dan kestabilan tanah.

“Kalau kita semakin murah menjual tehnya, maka petani kita beli dengan harga murah juga. Tidak ada nilai tambah untuk mereka bisa bertahan. Mereka akhirnya akan mengonversi lahan teh menjadi lahan yang lebih menguntungkan,” ujar Redha.

Karena itu, Sila berupaya mempertahankan nilai produk melalui kualitas bahan baku, proses pengolahan, serta pengetahuan yang menyertai produk. Perusahaan juga melakukan pemeriksaan ulang terhadap teh yang diterima dari mitra kebun sebelum melalui proses peracikan dan pengemasan.

Ekspor Masih Skala Kecil

Sila Indonesia Artisan Tea (Bloomberg Technoz)

Sila mulai menjajaki pasar internasional melalui pameran dan pertemuan dengan calon pembeli di sejumlah negara. Redha menyebut perusahaan pernah mengikuti pameran di Singapura, Thailand, Jepang, Amerika Serikat, Uzbekistan, dan Prancis.

Produk Sila juga telah menjangkau sejumlah pasar luar negeri, termasuk Kanada, Turki, Abu Dhabi, Austria, Jepang, dan Singapura. Namun, pengiriman masih dilakukan dalam skala relatif kecil, belum mencapai volume ekspor menggunakan kontainer.

Redha mengatakan, perusahaan juga telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan mitra dari Malaysia. Sementara itu, penjajakan pasar di TEI 2026 membuka peluang pertemuan dengan calon pembeli dari Australia dan sejumlah negara lainnya.

Meski demikian, perusahaan perlu memastikan kesiapan produksi sebelum mengambil pesanan dalam jumlah besar. Peningkatan kapasitas membutuhkan perencanaan investasi, termasuk kemungkinan penambahan mesin, peralatan, dan ruang produksi.

“Kalau buyer datang, pertanyaannya kita bisa produksi berapa banyak. Kapasitas saat ini segini, tetapi bisa diperbesar. Tantangannya, kalau kapasitas ditingkatkan sekarang dengan modal tertentu, kapan modal itu bisa kembali?” kata Redha.

Menurut dia, pengembangan pasar domestik tetap menjadi prioritas pada tahap awal bisnis. Penguatan pasar dalam negeri dinilai penting untuk membangun fondasi usaha sekaligus meningkatkan kesiapan perusahaan ketika peluang ekspor dengan volume lebih besar muncul.

Harapkan Dukungan Pembiayaan dan Penjaminan

Sila Indonesia Artisan Tea (Bloomberg Technoz)

Sebagai UMKM binaan Indonesia Eximbank selama sekitar dua tahun terakhir, Sila memperoleh kesempatan mengikuti TEI untuk memperkenalkan produk dan menjajaki peluang bisnis. Redha mengatakan, dukungan dalam kegiatan pameran menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan perusahaan dengan calon pembeli internasional.

Namun, transaksi ekspor dalam skala lebih besar membutuhkan kesiapan modal dan pengelolaan risiko yang lebih baik. Menurut Redha, pelaku UMKM perlu menyiapkan dokumen ekspor, pemenuhan standar kualitas, serta kebutuhan produksi sebelum dapat merealisasikan pesanan.

Di sisi lain, mekanisme pembayaran dengan pembeli juga dapat menjadi tantangan. Tidak semua pembeli bersedia membayar uang muka, sementara eksportir membutuhkan modal untuk membeli bahan baku dan menyiapkan produksi.

“Ketika kita mendapatkan pesanan besar, fasilitas produksi juga harus disiapkan. Mungkin perlu menambah mesin baru atau memperluas area produksi. Harapannya, Indonesia Eximbank bisa membantu dalam sistem permodalan dan kesiapan produksi,” ujarnya.

Redha menegaskan, Sila saat ini masih membangun fondasi bisnis dan belum memperoleh fasilitas pembiayaan dari Indonesia Eximbank. Karena itu, dukungan pembiayaan dan penjaminan menjadi kebutuhan yang diharapkan dapat membantu perusahaan ketika memperoleh pesanan ekspor dengan nilai lebih besar.

Bagi Sila, peluang ekspor tidak hanya ditentukan oleh minat pembeli, tetapi juga kemampuan menjaga kualitas dan memenuhi pesanan secara konsisten. Penguatan kapasitas produksi, akses pembiayaan, dan perluasan jaringan pasar menjadi faktor penting agar teh artisan Indonesia dapat bersaing di pasar internasional.

(tim)

No more pages